Striker Mumpuni Nan Islami  

Frederic Kanoute
Dimas Ramadani
27/08/2009 08:48
Striker Sevilla, Frederic Kanoute mengontrol bola dalam laga La Liga Spanyol menghadapi Osasuna pada 16 Mei 2009 di Stadion Reyno de Navarra, Pamplona. AFP PHOTO/Rafa Rivas
Frederic Kanoute (© AFP 2009)

Liputan6.com, Seville: Sepakbola sebuah olahraga universal. Anggapan tersebut kerap dilontarkan Michel Platini, orang nomor satu di UEFA. Tidak ada batasan apapun. Setiap individu berhak mencicipi kesempatan bermain jika didukung skill. Eropa yang jadi kiblat sepakbola bisa menjadi gambaran keuniversalan olahraga paling diminati di muka Bumi ini. Di liga utama seperti di Inggris, Spanyol dan Italia tumplek pemain dengan beragam latar sosial, asal-usul, ras, dan religi. Tidak terkecuali pesepakbola beragama Islam.

Cukup banyak pemain Muslim meramaikan jagat persepakbolaan Eropa, yang didominasi pemain asal, atau setidaknya keturunan Afrika. Sebut saja Sulley Ali Muntari (Inter Milan), Momo Sissoko (Juventus), Kolo Toure (Manchester City), Eric Abidal dan Yaya Toure (Barcelona), Karim Benzema Lassana Diarra dan Mahamadou Diarra (Real Madrid), dan tentu masih banyak lagi yang lainnya.

Di Sevilla terdapat striker yang kuat memegang teguh Islam dalam hidup hidup dan disegani pemain bertahan lawan. Ia Frederic Kanoute. Kemampuannya mengolah bola dan melesakkan gol tidak perlu disangsikan lagi. Musim lalu ia menempati posisi kedelapan dengan raihan 18 gol dalam daftar pemain tersubur di La Liga bersama dengan Raul Gonzalez, ikon Real Madrid. Total lebih dari 60 gol dikoleksinya sejak membela Sevilla empat tahun lalu.

Jejak rekamnya oke. Sevilla menjadi klub keempat striker berkebangsaan Mali yang lahir di Rhone, Prancis, 31 tahun silam. Sebelumnya ia bermain di Lyon, West Ham United dan Tottenham Hotspur. 2007 merupakan tahun paling gemilang dalam perjalanan karier suami dari Fatima dan ayah dari dua orang anak tersebut.

Di tahun tersebut ia membawa Sevilla mempertahankan gelar juara Piala UEFA dan mengemas 21 gol yang menempatkannya di urutan ketiga El Pichichi, gelar topskorer di Spanyol. Kanoute lantas dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Afrika, menyingkirkan Didier Drogba, Michael Essien, serta Samuel Eto’o.

Namun yang menarik adalah prinsipnya dalam memegang teguh Islam, agama yang dianutnya sejak berusia 20 tahun. Pada Ramadhan ini jangan tanyakan apakah ia berpuasa atau tidak. Kanoute ingin karirnya dan ibadah bersinergi. “Saya menghormati agamaku dan akan beribadah sebaik mungkin,” kata Kanoute. Padahal Andalusia yang berada di Spanyol bagian selatan merupakan wilayah dengan suhu tertinggi di belahan Eropa. “Saya bisa (dan harus) menjalaninya, terima kasih Tuhan,” imbuhnya.

Sebelumnya ia melontarkan penolakan mengenakan seragam Sevilla yang didadanya terpampang sponsor judi online, 888.com. Alhasil Kanoute mengenakan seragam tanpa sponsor sampai ditemukan jalan tengah perusahaan sponsor itu bersedia mendonasikan keuntungan untuk kampanye kemanusian.

Di 2007, ia merogoh kocek pribadinya hampir 500 ribu euro (Rp 7,15 miliar) untuk membeli sebuah mesjid. Kontrak tanah mesjid tersebut selesai dan hendak dijual. Komunitas Islam di Spanyol begitu berterimakasih dan dermanya banyak disorot media. Meski begitu Kanoute tetap low-profile.

Januari 2009 lalu Kanoute melakukan selebrasi gol yang menghebohkan. Setelah membobol gawang Deportivo La Coruna di pentas Copa del Rey, Kanoute mengangkat seragam tim dan memaparkan kaos bertuliskan Palestine dengan beragam huruf. Beberapa pihak sepakat hal itu merupakan protes atas penyerbuan Israel terhadap Kota Gaza. Aksi itu berbuntut pada hukuman denda, namun mendapat sanjungan dari segenap umat Muslim dunia. Tidak ingin ribut dan berdebat, Kanoute membayar denda yang jumlahnya US$ 4.000 (Rp 40 juta).(DIM)

Bookmark

  • Delicious
  • Digg
  • reddit
  • StumbleUpon

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini.

Posting komentar Anda
Dudi @ Sabtu, 05 September 2009 | 16:52
he's a fantastic footballer, are there any others?

POSTING KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar
Security Code
 
 
Wawancara
Tetap Lapar dengan Gelar
Mohamed Zidan

Tetap Lapar dengan Gelar  

Mesir menoreh rekor baru: tampil sebagai yang terbaik di Afrika tiga kali berturut-turut. Secara keseluruhan, The Pharaohs merengkuh trofi Piala Afrika tujuh kali. Meski demikian, menurut Mohamed Zidan, timnya tetap lapar dengan gelar.