Henry Sempat Menimbang Mundur dari Timnas  

Timnas Prancis
ME Gunawan
23/11/2009 17:05
Kapten Prancis, Thierry Henry di sesi konferensi pers yang berlangsung di Clairefontaine, 17 November 2009, jelang leg kedua play-off PD 2010 lawan Republik Irlandia. AFP PHOTO / FRANCK FIFE
Thierry Henry (© AFP 2009)

Liputan6.com, Paris: Hari-hari yang penuh dihiasi warta seputar Thierry Henry. Lima hari berlalu sejak usainya leg kedua babak play-off Piala Dunia (PD) 2010 Zona Eropa antara Prancis versus Republik Irlandia, Henry menjadi pusat perhatian publik menyusul ulah handball yang dilakukannya yang membuat Les Bleus mampu meraih tiket ke putaran final.

Sikap Henry yang dinilai sangat tidak sportif itu memicu gelombang kecaman. Tak hanya dari luar negeri, terutama Republik Irlandia, sejumlah tokoh dan pejabat Prancis pun menyatakan kekecewaannya atas tindakan striker Barcelona itu. Bahkan, dari hasil polling yang diadakan France 2, 81 persen responden menilai Henry dkk tidak pantas melaju ke Afrika Selatan (Baca, Polling: Prancis Tak Pantas Lolos).

Buruknya hari-hari itu diakui Henry yang bahkan sempat menimbang untuk meninggalkan Les Bleus. “Oh, iya, benar seperti itu,” aku Henry kepada harian olahraga terkemuka Prancis, L’Equipe, ketika ditanya tentang kemungkinan adanya opsi gantung sepatu dari panggung internasional menyusul derasnya kecaman publik. “Itu terjadi pada Jumat (20/11) dimana segala sesuatunya berjalan terlalu jauh (liar). Hasrat (meninggalkan timnas) itu begitu bergelora,” imbuhnya.

Henry mengaku jika pikiran meninggalkan timnas yang telah diperkuatnya sejak Juni 1997 itu merupakan kali ketiga yang sempat mampir dalam benaknya. “Itu (menimbang undur diri) bukan kali pertama. Setelah PD 2006, saya sempat punya pikiran seperti itu. Namun, ketika itu tampaknya putusan itu terlalu dini. Seusai Euro 2008 pun begitu. Tapi, saatnya kurang tepat. Sebab, generasi yang baru masih membutuhkan kehadiran saya,” aku Henry yang tetap berjanji membela panji-panji Les Bleus. “Terlepas dari segalanya yang telah terjadi dan fakta yang membuat saya frustasi, saya tidak akan membuat kecewa negara yang saya bela,” tandas Henry.

Henry yang sempat menyatakan partai replay merupakan solusi terbaik bagi kedua belah tim—wacana yang ditolak dengan tegas oleh FIFA—mengaku sangat menyesal dengan gaya selebrasi yang dilakukannya seusai terjadinya gol William Gallas. “Saya seharusnya tidak melakukannya dengan cara seperti itu. Tapi, jujur saya, saat itu, setelah apa yang telah kami lalui, suasananya jadi tidak terkontrol,” kilah Henry.

Henry mengkritik kebijakan Federasi Sepakbola Prancis (FFF) yang dianggapnya hanya berpangku tangan ketika gempuran media massa berhamburan. “Sehari setelah pertandingan usai dan sehari berikutnya saya merasa sendirian. Sendirian,” ujar pencetak 51 gol bagi Les Bleus dari 117 pertandingan internasional yang diikutinya.(MEG).

Bookmark

  • Delicious
  • Digg
  • reddit
  • StumbleUpon

POSTING KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar
Security Code
 
 
Wawancara
Tetap Lapar dengan Gelar
Mohamed Zidan

Tetap Lapar dengan Gelar  

Mesir menoreh rekor baru: tampil sebagai yang terbaik di Afrika tiga kali berturut-turut. Secara keseluruhan, The Pharaohs merengkuh trofi Piala Afrika tujuh kali. Meski demikian, menurut Mohamed Zidan, timnya tetap lapar dengan gelar.