Alasan Ranieri Pilih Poulsen Ketimbang Alonso
09/10/2008 18:55 | Juventus, Claudio Ranieri, Christian Poulsen, Xabi Alonso
Di bursa transfer musim panas lalu, seusai sukses memboyong bek Olof Mellberg dari Aston Villa secara gratis dan striker Amauri dari Palermo dengan fee transfer sebesar 15,3 juta euro (ditambah kepemilikan Antonio Nocerino dan kepemilikan bersama Davide Lanzafame), Juventus dan Claudio Ranieri memusatkan perhatiannya terhadap gelandang berkualitas jempolan.
Ada sejumlah nama yang masuk dalam daftar incaran: midfielder Liverpool asal Spanyol, Xabi Alonso, Alberto Aquilani (AS Roma), Marek Hamsik (Napoli), Dejan Stankovic (Inter Milan), dan gelandang Sevilla, Christian Poulsen. Ketika itu, publik Italia sangat yakin jika Ranieri bakal memilih Alonso, 26 tahun.
Namun, keyakinan itu mulai memudar seiring dengan begitu jauhnya permintaan The Reds dengan tawaran La Vecchia Signora (Baca: Soal Alonso, Minat Juve Meredup?).
Karena itulah, Ranieri pun mengalihkan pandangannya ke La Liga (Baca: Bianconeri Mulai Jajaki Poulsen). Sejarah mencatat, akhirnya Juve berhasil memboyong Poulsen, gelandang Timnas Denmark berusia 28 tahun dengan fee transfer 9,75 juta euro pada 14 Juli lalu.
Kini, mulai terungkap alasan Ranieri memilih Poulsen ketimbang Alonso. Di mata mantan manajer Chelsea ini, karakter Alonso dinilainya tidak cocok dengan pola dan gaya yang akan diterapkannya di Turin. “Xabi Alonso? Saya tidak menginginkannya karena ia terlalu lamban,” tegas Ranieri seperti yang dikatakannya kepada harian Italia, La Stampa.
Lebih lanjut Ranieri menambahkan jika Alonso sangat beruntung mempunyai rekan-rekan di Liverpool yang mau bekerja keras untuk membantu sektor pertahanan.
“Saya bayangkan jika ia bermain bersama-sama (Pavel) Nedved) dan (Mauro) Camoranesi, dua pemain yang gemar menyerang dan kadang lupa untuk bertahan. Saya ragu jika Xabi (Alonso) mampu mengkover lini tengah. Beda dengan di Liverpool, dimana para pemainnya bertipe prajurit atau pekerja keras,” terang Ranieri. Jadi? “Bagaimanapun juga, (Christian) Poulsen lebih baik, selalu siap di tempat manakala ia dibutuhkan.”
Ada sejumlah nama yang masuk dalam daftar incaran: midfielder Liverpool asal Spanyol, Xabi Alonso, Alberto Aquilani (AS Roma), Marek Hamsik (Napoli), Dejan Stankovic (Inter Milan), dan gelandang Sevilla, Christian Poulsen. Ketika itu, publik Italia sangat yakin jika Ranieri bakal memilih Alonso, 26 tahun.
Namun, keyakinan itu mulai memudar seiring dengan begitu jauhnya permintaan The Reds dengan tawaran La Vecchia Signora (Baca: Soal Alonso, Minat Juve Meredup?).
Karena itulah, Ranieri pun mengalihkan pandangannya ke La Liga (Baca: Bianconeri Mulai Jajaki Poulsen). Sejarah mencatat, akhirnya Juve berhasil memboyong Poulsen, gelandang Timnas Denmark berusia 28 tahun dengan fee transfer 9,75 juta euro pada 14 Juli lalu.
Kini, mulai terungkap alasan Ranieri memilih Poulsen ketimbang Alonso. Di mata mantan manajer Chelsea ini, karakter Alonso dinilainya tidak cocok dengan pola dan gaya yang akan diterapkannya di Turin. “Xabi Alonso? Saya tidak menginginkannya karena ia terlalu lamban,” tegas Ranieri seperti yang dikatakannya kepada harian Italia, La Stampa.
Lebih lanjut Ranieri menambahkan jika Alonso sangat beruntung mempunyai rekan-rekan di Liverpool yang mau bekerja keras untuk membantu sektor pertahanan.
“Saya bayangkan jika ia bermain bersama-sama (Pavel) Nedved) dan (Mauro) Camoranesi, dua pemain yang gemar menyerang dan kadang lupa untuk bertahan. Saya ragu jika Xabi (Alonso) mampu mengkover lini tengah. Beda dengan di Liverpool, dimana para pemainnya bertipe prajurit atau pekerja keras,” terang Ranieri. Jadi? “Bagaimanapun juga, (Christian) Poulsen lebih baik, selalu siap di tempat manakala ia dibutuhkan.”
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Bookmark
Wawancara
Wayne Rooney
Mencoba Mengukir Sejarah
Tahun 2011 menjadi tahun gemilang bagi Wayne Rooney. Duetnya dengan Javier Hernandez menjadi salah satu kunci keberhasilan Manchester United meraih rekor 19 kali juara Liga Premier Inggris.
Polling Bola

