Mourinho, Antara Kejujuran dan Arogansi
Inter Milan ME Gunawan16/12/2009 01:25 | Inter Milan
Pelatih Inter Milan, Jose Mourinho dalam acara jumpa pers di Beijing, Cina, pada 6 Agustus 2009, sebelum menghadapi Lazio di Piala Super Italia. CHINA OUT/AFP PHOTO
Jose Mourinho (© AFP 2009)
Artikel Terkait
Liputan6.com, Milan: Belakangan nama Jose Mourinho menjadi pusat pembicaraan publik sepakbola di Negeri Pisa, Italia. Hal ini dipicu dari tudingan bahwa pelatih Inter Milan tersebut telah bersikap tak pantas, menghina salah satu reporter Corriere dello Sport, Andrea Ramazzotti. Insiden itu terjadi pascalaga antara Nerazzurri dan Atalanta yang berkesudahan imbang 1-1 di Stadio Azzurri d’Italia, Minggu lalu (Baca: Mourinho Terancam Skors dan Pecat).
Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, pada Selasa (15/12), Mourinho menggelar konferensi pers untuk menjernihkan persoalan tersebut. Konferensi ini mendapat pro-kontra. Pasalnya, sebagian wartawan menolak hadir dalam acara tersebut, sementara sebagian lainnya merasa perlu untuk mengetahui pernyataan Special One.
Seperti yang dilansir Football Italia, Mourinho dengan jantan mengakui tudingan tersebut. “Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengomentari apa yang terjadi, terutama setelah bermunculannya banyak hal sejak Minggu lalu. Pertama-tama, saya harus jujur pada diri saya sendiri. Saya mengaku telah menghina kolega Anda dengan kata-kata yang tidak mungkin saya ulangi di sini. Namun, saya tegas menolak jika dikatakan telah melakukan penyerangan atau kontak fisik terhadap yang bersangkutan,” tegas Mourinho.
“Apa yang saya lakukan tidak hanya disebabkan apa yang terjadi pada hari Minggu lalu, tapi merupakan proses yang terjadi berbulan-bulan. Terang saja, saya bersalah dengan menghinanya. Tapi, itu pun tak lepas dari kesalahan sang jurnalis. Sebab, ia tahu dimana posisi kami berada saat itu dan lagi pula hal itu pun merupakan kesalahan staf Inter yang tidak melakukan intervensi,” tambah Mourinho.
Pasalnya, menurut Mourinho, pada saat insiden itu terjadi, sang jurnalis, Ramazzotti sejatinya tidak diperkenankan berada di area tersebut. “Ada ruang pers dan mixed zones. Saya tidak ingin jurnalis berada di sekitar pintu bis tim. Itulah sebabnya, saya bereaksi. Dari satu partai ke partai lainnya saya selalu menemukan kolega Anda (Ramazzotti) berada di area yang sama. Saya pun berulang-ulang memberitahunya bahwa ia tidak diperkenankan berada di tempat tersebut.”
Meski mengakui kesalahannya, Mourinho tetap mempertahankan ciri khas dan karakternya, arogan. Hal itu tersirat dari keengganan Mourinho untuk meminta maaf atas perbuatannya itu di depan muka publik. “Akan tetapi, saya tidak akan meminta maaf secara publik. Sebab, situasi yang terjadi saat itu bukanlah situasi publik. Saya senang untuk bisa berbicara dengannya empat mata. Sebab, apa yang terjadi adalah masalah personal antara kami berdua,” tandas Mourinho.
Sementara itu, Presiden Inter, Massimo Moratti yang dikabarkan sangat kecewa dan marah dengan sikap Mourinho, menolak memberi komentar sampai ia mengetahui dengan lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi. Mourinho pun mengaku tak tahu apa yang bakal terjadi pada dirinya. “Jika seorang pemain melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan, saya tidak tahu apakah saya akan menghukumnya,” kilah Mourinho membela apa yang dilakukannya kepada Ramazzotti.
Meski demikian, Mourinho mengaku siap menerima segala konsekuensinya, termasuk hukuman yang akan dijatuhkan klub. Pihak klub-lah yang akan membuat keputusan. Saya akan menerima jika mereka memutuskan untuk menghukum saya. Sebab, seorang pelatih tidak seyogyanya melontarkan kata-kata itu,” tutur Mourinho yang bersikukuh tidak akan mengulang kata-kata yang sempat ia katakan kepada Ramazzotti.(MEG)
Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, pada Selasa (15/12), Mourinho menggelar konferensi pers untuk menjernihkan persoalan tersebut. Konferensi ini mendapat pro-kontra. Pasalnya, sebagian wartawan menolak hadir dalam acara tersebut, sementara sebagian lainnya merasa perlu untuk mengetahui pernyataan Special One.
Seperti yang dilansir Football Italia, Mourinho dengan jantan mengakui tudingan tersebut. “Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengomentari apa yang terjadi, terutama setelah bermunculannya banyak hal sejak Minggu lalu. Pertama-tama, saya harus jujur pada diri saya sendiri. Saya mengaku telah menghina kolega Anda dengan kata-kata yang tidak mungkin saya ulangi di sini. Namun, saya tegas menolak jika dikatakan telah melakukan penyerangan atau kontak fisik terhadap yang bersangkutan,” tegas Mourinho.
“Apa yang saya lakukan tidak hanya disebabkan apa yang terjadi pada hari Minggu lalu, tapi merupakan proses yang terjadi berbulan-bulan. Terang saja, saya bersalah dengan menghinanya. Tapi, itu pun tak lepas dari kesalahan sang jurnalis. Sebab, ia tahu dimana posisi kami berada saat itu dan lagi pula hal itu pun merupakan kesalahan staf Inter yang tidak melakukan intervensi,” tambah Mourinho.
Pasalnya, menurut Mourinho, pada saat insiden itu terjadi, sang jurnalis, Ramazzotti sejatinya tidak diperkenankan berada di area tersebut. “Ada ruang pers dan mixed zones. Saya tidak ingin jurnalis berada di sekitar pintu bis tim. Itulah sebabnya, saya bereaksi. Dari satu partai ke partai lainnya saya selalu menemukan kolega Anda (Ramazzotti) berada di area yang sama. Saya pun berulang-ulang memberitahunya bahwa ia tidak diperkenankan berada di tempat tersebut.”
Meski mengakui kesalahannya, Mourinho tetap mempertahankan ciri khas dan karakternya, arogan. Hal itu tersirat dari keengganan Mourinho untuk meminta maaf atas perbuatannya itu di depan muka publik. “Akan tetapi, saya tidak akan meminta maaf secara publik. Sebab, situasi yang terjadi saat itu bukanlah situasi publik. Saya senang untuk bisa berbicara dengannya empat mata. Sebab, apa yang terjadi adalah masalah personal antara kami berdua,” tandas Mourinho.
Sementara itu, Presiden Inter, Massimo Moratti yang dikabarkan sangat kecewa dan marah dengan sikap Mourinho, menolak memberi komentar sampai ia mengetahui dengan lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi. Mourinho pun mengaku tak tahu apa yang bakal terjadi pada dirinya. “Jika seorang pemain melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan, saya tidak tahu apakah saya akan menghukumnya,” kilah Mourinho membela apa yang dilakukannya kepada Ramazzotti.
Meski demikian, Mourinho mengaku siap menerima segala konsekuensinya, termasuk hukuman yang akan dijatuhkan klub. Pihak klub-lah yang akan membuat keputusan. Saya akan menerima jika mereka memutuskan untuk menghukum saya. Sebab, seorang pelatih tidak seyogyanya melontarkan kata-kata itu,” tutur Mourinho yang bersikukuh tidak akan mengulang kata-kata yang sempat ia katakan kepada Ramazzotti.(MEG)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Bookmark
Wawancara
SEA Games 2011
RD: Target Saya Medali Emas
Pelatih Timnas U-23, Rahmad Darmawan, memuji permainan anak asuhnya. "Kita punya peluang memenangkan pertandingan dengan Malaysia," tegasnya.
Polling Bola
