Sukses

Mahasiswa Indonesia Sering Dianggap Aneh di Paris

Liputan6.com, Paris - Menyesuaikan diri. Itulah yang menjadi tantangan pertama bagi para mahasiswa atau mahasiswi yang sedang studi di luar negeri. Tidak hanya soal cuaca dan makanan, tetapi juga soal pergaulan dengan masyarakat setempat dan rekan-rekannya yang berasal dari lain benua.

Perbedaan budaya jangan dianggap remeh. Salah-salah berucap atau melakukan sesuatu, risikonya bisa fatal. Dikucilkan atau dianggap aneh sering terjadi. Setidaknya itulah yang dirasakan Angga Perima (27), mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Universitas Pierre et Marie Curie.

"Di sini banyak sekali mahasiswa dari berbagai negara dan mereka membawa budaya sendiri-sendiri. Namun, justru perbedaan itu sangat seru, bahkan kami sampai membentuk istilah 'imigran united'," ujar Angga, kepada wartawan Bola.com, Ary Wibowo dan Vitalis Yogi Trisna, di Paris.

Angga mengatakan, budaya pendidikan di Prancis memang cukup ketat, baik dalam perkuliahan ataupun saat para dosen memberi nilai. Oleh karena itu, menurut dia, para mahasiwa dan mahasiswa yang ingin melanjutkan studi harus cepat beradaptasi dengan berbagai hal.

Soal budaya, misalnya, biasanya mahasiswa baru mendapat training kecil seputar adat-istiadat setempat. Mahasiswa yang menyelesaikan gelar master jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan ITB itu juga mempelajari mengenai sistem pendidikan hingga transportasi.

1 dari 2 halaman

Adaptasi Butuh Waktu

Proses adaptasi memang membutuhkan waktu. Namun, jika berbagai tantangan bisa dihadapi biasanya akan berbuah manis. Sebab, menurut Angga, dirinya tidak hanya mendapatkan iimu dari tempat kuliah, tetapi juga pengalaman dari interaksi bersama mahasiswa dari negara lain.

"Saya juga pernah ikut volunteer di beberapa acara kampus dan bayarannya lumayanlah untuk tambah-tambah biaya hidup di Paris yang cukup mahal," tutur pria yang melanjutkan studi mengambil gelar doktor di Paris lewat beasiswa Kementerian Keuangan Indonesia tersebut.

Sementara itu, terkait pagelaran Piala Eropa 2016 yang berlangsung di Prancis, Angga mengakui atmosfernya memang cukup besar. Namun, menurut pelajar yang berstatus sebagai Penasehat dan Pelatih Asosiasi Pencak Silat KBRI Paris itu nuansa turnamen tersebut paling terasa di pusat kota Paris.

"Karena saya tinggal di Paris coret (Paris bagian barat), hebohnya tidak seperti di pusat kota. Akan tetapi, di sini lumayan banyak juga yang menyaksikan pertandingan. Apalagi, kalau Prancis bertanding," tutur dia.

Artikel Selanjutnya
Top 3: Tantangan Internet Berujung Maut, Hari Patah Hati Nasional
Artikel Selanjutnya
Top 3: Penyendiri, Malas dan 7 Ciri Mengejutkan Pemilik IQ Tinggi