Sukses

Eder Dedikasikan Gol Kemenangan Portugal kepada Psikolog Tim

Liputan6.com, Jakarta - Meski tidak diunggulkan, tim nasional (Timnas) Portugal berhasil merebut memenangkan Piala Eropa 2016 usai mengalahkan Prancis 1-0 di final yang berlangsung di Stade de France, Senin (11/7/2016). Eder, pemain pengganti yang masuk pada menit ke-79 tampil sebagai pahlawan kemenangan Seleccao.

Keputusan pelatih Portugal, Fernando Santos, memasukkan Eder sebenarnya terbilang riskan. Sebab musim lalu, pemain berusia 28 tahun itu tampil buruk bersama Swansea City di Premier League. Sejak diboyong dari Braga dengan mahar 5 juta euro atau Rp 85 Miliar, Eder mandul dalam 15 pertandingan.

Dia kemudian dikirim ke Lille. Kondisi ini membuat mentalnya ambruk. Kepercayaan dirinya sebagai penyerang memburuk. Beruntung di timnas Portugal, Eder akhirnya bertemu dengan psikolog, Susana Torres. Berkat bimbingan wanita berambut pirang itu, Eder bangkit dan kini jadi pahlawan Portugal.

Eder membawa Seleccao unggul pada menit ke-109 setelah tendangan jarak jauh yang dilepaskannya mengarah ke pojok gawang Hugo Lloris. Skor 1-0 bertahan hingga babak perpanjangan waktu usai.

"Itu menjadi tujuan saya sejak menit pertama turnamen berlangsung. Saya ingin mendedikasikan gol ini untuk Susana, dokter yang berdedikasi tinggi untuk saya," ujar Eder dilansir The Sun.  

Mengenai kegagalannya di Premire League, Eder tidak menutupinya. Menurut Eder, Premier League merupakan liga terbaik di dunia dan persaingan sangat berat. Karena itu dia butuh waktu beradaptasi.

"Itu (Premier League) liga terbaik di dunia, jadi tentu saja sangat sulit. Bermain di Premier League menjadi mimpi saya," katanya. "Swansea adalah tim yang bagus dengan orang-orang baik. Hanya, di sana saya tidak berkembang sesuai jalan yang saya harapkan di lapangan," Eder menambahkan. 

 

1 dari 2 halaman

Masa Lalu Eder

Eder lahir di salah satu koloni Portugal, Guinea-Bissau di sebelah barat Afrika. Saat berusia 3 tahun dia sudah berpisah dengan orangtuanya. Sesaat setelah diboyong ke Portugal, dia kemudian diadopsi.

"Tentu saja, sangat sulit bagi anak kecil. Normalnya, Anda tumbuh bersama orangtua dan mendapat dukungan mereka, tanpa mereka akan selalu sulit," ujar Eder menguak masa lalunya.

Namun Eder tak ingin meratapi nasibnya. Sebaliknya, dia berusaha mengubahnya jadi lebih baik.

"Saya belajar banyak sebagai manusia dan saya cepat dewasa di panti asuhan. Di satu sisi itu baik bagi saya dan perkembangan kepribadian saya. Setidaknya saya berubah jadi lebih baik," beber Eder.

"Anda harus menemukan kekuatan dan tenaga Anda sendiri, dan itu membantu saya di sepak bola."

Eder kini telah dilepas ke klub Prancis, Lille, pada Februari lalu dan telah dipermanenkan tak lama sebelum dia mematahkan hati warga Prancis. "Ini bukan berarti saya takut terhadap Premier League. Saya yakin saya bisa beradaptasi di sana dan menunjukkan kemampuanku. Sekarang fokus saya hanya untuk Lille dan saya senang bermain di sini, tapi saya juga bisa sukses di Premier League." 

 

Artikel Selanjutnya
Januzaj Ingin Belajar dari Bintang Chelsea
Artikel Selanjutnya
Kante Mulai Rajin Cetak Gol, Deschamps: Dia Sempurna