Sukses

Juara Umum PON, Jabar Berjaya di Tanah Legenda

Liputan6.com, Bandung - Tuan rumah Jawa Barat benar-benar berjaya di tanah legenda. Keberhasilan Jabar tampil sebagai juara umum PON 2016 semakin lengkap setelah merebut emas di cabang olahraga paling bergengsi: sepak bola.

Sehari sebelum upacara penutupan atau Rabu (28/9/2016), tim sepak bola Jabar memastikan diri merebut emas setelah mengalahkan Sulawesi Selatan melalui adu penalti. Pertandingan di Stadion Si Jalak Harupat benar-benar menguras emosi. 

Ya, pemenang duel ini ditentukan melalui adu penalti setelah kedua kubu bermain imbang tanpa gol sepanjang 2x45 menit. Pada laga ini, kiper M Natsir pantas mendapat apresiasi setelah dua kali menggagalkan eksekusi Sulsel.

Stadion Si Jalak Harupat bergemuruh menyambut kemenangan dengan skor 5-4. Penantian panjang Jabar selama 55 tahun menjadi juara umum PON semakin lengkap dengan emas dari cabor sepak bola.

Tim sepak bola PON Jabar

Namun demikian, kontroversi tetap mengiringi duel ini. Tim Sulsel menolak menerima medali perak. Offisial tim merasa, laser dari arah penonton merusak konsentrasi dua algojo mereka.

Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Sulsel, Mulyadi, meminta Gubernur Jabar Ahmad Heryawan meminta maaf.

"Dua penendang kami tadi dilaser, komentator di televisi pun juga sudah bilang. Ini hasil yang tidak sportif, Gubernur harus minta maaf, kami tidak ikut upacara (pengalungan medali)," ketus Mulyadi.

Terlepas dari kontroversi di laga itu, tim Jabar asuhan pelatih Lukas Tumbuan ini tampil impresif sepanjang perhelatan PON. Tuan rumah menyabet medali emas tanpa mengalami kekalahan.

Selain itu, Jabar mampu mengalahkan Sulawesi Selatan dua kali di PON 2016. Kemenangan pertama diraih Jabar usai memecundangi Sulsel dengan skor akhir 4-2 di babak kedua Grup D. Sedangkan kemenangan kedua terjadi di babak final.

Atlet Voli, Yolla Yuliana

Selain merebut emas di cabor sepak bola, Jabar melengkapi keping emas di olahraga bergengsi lainnya seperti bola voli indoor. Yolla Yuliana menjadi bintang kemenangan Jabar setelah membekuk Jawa Timur dengan skor telak 3-0.

Emas ini sekaligus menjadi kado perpisahan Yolla dan tiga rekannya, yakni Agustin Wulandhari, Komang Bumi Rekta, dan Amalia Fajarina.

Pada PON 2020 mendatang di Papua, kuartet tersebut tidak akan tampil karena terganjal umur. Yolla mengaku puas atas pencapaian ini."Rasanya senang sekali bisa mendapatkan medali emas pada PON terakhir, apalagi ini mainnya di Jawa Barat. Medali emas ini saya persembahkan untuk keluarga dan tentunya publik Jawa Barat," kata Yolla saat ditemui wartawan seusai penyerahan medali.

1 dari 2 halaman

Jabar Menanti Bonus

Terlepas dari kontroversi tersebut, Jabar memuncaki klasemen perolehan medali. Sampai Rabu, pukul 22.30 malam, Jabar sudah mengemas 216 emas, 154 perak, dan 158 perunggu. Praktis, perolehan medali Jabar sudah tidak terkejar para pesaing.

Jatim menempati posisi kedua dengan 132 emas, 136 perak, dan 131 perunggu. Sukses Jabar menjadi juara umum PON 2016 pun menjadi momen spesial. Pasalnya, Jabar harus menanti selama 55 tahun untuk mengunci gelar juara umum. Hasil ini membuat Jabar sudah dua kali merebut juara umum PON.

Ahmad Heryawan

Jabar terakhir kali meraih juara umum PON pada PON II di Jakarta, 21-28 Oktober 1951. Setelah itu, kontingen Ibu Kota, DKI Jakarta, lebih banyak meraih gelar juara umum. Sepanjang sejarah PON, DKI Jakarta tercatat sudah 11 kali tampil sebagai juara umum. Terakhir, mereka melakukannya pada PON 2012 lalu di Riau.

Hanya saja, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan belum berani blak-blakan soal bonus untuk para atlet. Namun dia berjanji, akan mengumumkan besaran bonus yang diterima para atlet. 

"Soal bonus masih kami rahasiakan. Pada saatnya kami akan mengumumkan. Pasti kami akan menghargai para atlet yang sudah berjuang," kata Aher dalam jumpa pers di media center PON, Trans Luxury Hotel, Rabu (28/9/2016) malam.

Selain bonus, orang nomor satu di Pemprov Jabar itu juga mempertimbangkan masa depan atlet. "Untuk mencapai prestasi, mereka sudah melewati latihan yang luar biasa keras. Salah satu perhatian kami kepada mereka adalah soal bonus, lalu juga masa depannya."