Tetap Lapar dengan Gelar
Mohamed Zidan ME Gunawan04/02/2010 12:40 | Timnas Mesir
Selebrasi striker Mesir, Mohamed Zidan seusai mencetak gol kedua timnya ke gawang Aljazair dalam babak semifinal Piala Afrika 2010 di Ombaka Stadium, Benguela, 28 Januari 2010. AFP PHOTO / GIANLUIGI GUERCIA
Mohamed Zidan (© AFP 2010)
Artikel Terkait
Liputan6.com, Zurich: Mesir membayar lunas kegagalannya meraih tiket Piala Dunia (PD) 2010 di Afrika Selatan dengan merengkuh trofi Piala Afrika 2010 setelah dalam babak final yang berlangsung di Estadio 11 de Novembro, Luanda, Angola, Minggu, 31 Januari, lalu menundukkan Ghana 1-0 (0-0) lewat gol Mohamed Nagy atau yang kerap dipanggil Geddo.
Keberhasilan itu menjadikan The Pharaohs menoreh rekor baru di panggung persepakbolaan Afrika, mampu merebut titel tiga kali berturut-turut dan secara keseluruhan mengoleksi gelar sebanyak tujuh kali. Sebelumnya, Mesir menjadi yang terbaik di Afrika pada pergelaran 1957, 1959, 1986, 1998, 2006, dan 2008.
Berikut wawancara eksklusif FIFA.com dengan salah satu punggawa asuhan Hassan Shehata, yang meskipun tidak didaulat sebagai pemain terbaik di Angola namun berkontribusi penting bagi keberhasilan Mesir, Mohamed Zidan. Striker Borussia Dortmund berusia 29 tahun ini mengaku The Pharaohs masih lapar meraup sejumlah gelar.
Pertama-tama, selama atas keberhasilan Mesir menjuarai Piala Afrika.
Kami sangat senang dengan kemenangan ini. Langkah yang besar bagi kami. Sebab, kami tahu betapa pentingnya partai final tersebut seiring dengan keinginan kami membuat rekor. Kami tetap lapar meraih gelar. Dan, kami percaya jika kami masih mampu tampil dengan lebih baik. Kami pikir, sangat sulit bagi negara manapun untuk menyamai apa yang telah kami raih.
Tujuh kali Mesir meraih gelar Piala Afrika. Anda pikir ada yang mampu melampauinya?
Saya kira, tidak mungkin. Namun, dalam sepakbola, tidak ada yang tidak mungkin. Yang jelas, rekor itu tak akan mampu disamai dalam waktu dekat. Butuh waktu panjang bagi sebuah tim untuk melampauinya.
Inikah tim terbaik yang pernah dimiliki Mesir?
Saya tidak bisa mengatakan dan membandingkannya. Biarlah publik dan fans yang menentukannya.
Banyak orang yang menilai permainan Mesir sebagai yang terbaik di turnamen ini. Apa yang menjadi motivasi terbesar bagi Anda dan Mesir?
Di setiap kompetisi, kami selalu berusaha tampil jadi yang terbaik. Kami datang di turnamen ini dengan determinasi memainkan sepakbola yang indah dan mempertahankan gelar. Bukan perkara mudah. Sebab, banyak tim yang berkualitas. Meski demikian, saya pikir, dengan apa yang telah kami tampilkan, adalah fair bagi kami untuk mengangkat trofi di partai terakhir.
Apa kiat di balik kesuksesan The Pharaohs?
Jujur saja, tidak ada rahasianya. Saya kira, faktor terpenting bagi Mesir adalah kami tidak mempunyai seorang pemain bintang dengan reputasi menjulang. Bukan berarti, kami tidak memiliki pemain yang bagus. Namun, dalam tim ini, semua pemain diperlakukan sama dan setara.
Seberapa penting kapten tim, Ahmed Hassan?
Penampilannya sungguh brilian. Ia memimpin dengan memberi bukti (contoh). Akan tetapi, kami tidak bergantung pada seorang pemain. Kami melakukannya sebagai tim. Namun, memang benar jika Ahmed adalah pemain spesial yang sangat berpengalaman.
Kegagalan melaju ke Afrika Selatan tentunya membuat Anda dan rekan-rekan sangat kecewa…
Tentu saja. Saya sangat berambisi dapat tampil di PD 2010. Tapi, saya tidak mau terus menerus membicarakannya. Itu telah berlalu. Kami lebih baik terfokus menatap masa depan.
(MEG)
Keberhasilan itu menjadikan The Pharaohs menoreh rekor baru di panggung persepakbolaan Afrika, mampu merebut titel tiga kali berturut-turut dan secara keseluruhan mengoleksi gelar sebanyak tujuh kali. Sebelumnya, Mesir menjadi yang terbaik di Afrika pada pergelaran 1957, 1959, 1986, 1998, 2006, dan 2008.
Berikut wawancara eksklusif FIFA.com dengan salah satu punggawa asuhan Hassan Shehata, yang meskipun tidak didaulat sebagai pemain terbaik di Angola namun berkontribusi penting bagi keberhasilan Mesir, Mohamed Zidan. Striker Borussia Dortmund berusia 29 tahun ini mengaku The Pharaohs masih lapar meraup sejumlah gelar.
Pertama-tama, selama atas keberhasilan Mesir menjuarai Piala Afrika.
Kami sangat senang dengan kemenangan ini. Langkah yang besar bagi kami. Sebab, kami tahu betapa pentingnya partai final tersebut seiring dengan keinginan kami membuat rekor. Kami tetap lapar meraih gelar. Dan, kami percaya jika kami masih mampu tampil dengan lebih baik. Kami pikir, sangat sulit bagi negara manapun untuk menyamai apa yang telah kami raih.
Tujuh kali Mesir meraih gelar Piala Afrika. Anda pikir ada yang mampu melampauinya?
Saya kira, tidak mungkin. Namun, dalam sepakbola, tidak ada yang tidak mungkin. Yang jelas, rekor itu tak akan mampu disamai dalam waktu dekat. Butuh waktu panjang bagi sebuah tim untuk melampauinya.
Inikah tim terbaik yang pernah dimiliki Mesir?
Saya tidak bisa mengatakan dan membandingkannya. Biarlah publik dan fans yang menentukannya.
Banyak orang yang menilai permainan Mesir sebagai yang terbaik di turnamen ini. Apa yang menjadi motivasi terbesar bagi Anda dan Mesir?
Di setiap kompetisi, kami selalu berusaha tampil jadi yang terbaik. Kami datang di turnamen ini dengan determinasi memainkan sepakbola yang indah dan mempertahankan gelar. Bukan perkara mudah. Sebab, banyak tim yang berkualitas. Meski demikian, saya pikir, dengan apa yang telah kami tampilkan, adalah fair bagi kami untuk mengangkat trofi di partai terakhir.
Apa kiat di balik kesuksesan The Pharaohs?
Jujur saja, tidak ada rahasianya. Saya kira, faktor terpenting bagi Mesir adalah kami tidak mempunyai seorang pemain bintang dengan reputasi menjulang. Bukan berarti, kami tidak memiliki pemain yang bagus. Namun, dalam tim ini, semua pemain diperlakukan sama dan setara.
Seberapa penting kapten tim, Ahmed Hassan?
Penampilannya sungguh brilian. Ia memimpin dengan memberi bukti (contoh). Akan tetapi, kami tidak bergantung pada seorang pemain. Kami melakukannya sebagai tim. Namun, memang benar jika Ahmed adalah pemain spesial yang sangat berpengalaman.
Kegagalan melaju ke Afrika Selatan tentunya membuat Anda dan rekan-rekan sangat kecewa…
Tentu saja. Saya sangat berambisi dapat tampil di PD 2010. Tapi, saya tidak mau terus menerus membicarakannya. Itu telah berlalu. Kami lebih baik terfokus menatap masa depan.
(MEG)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Bookmark
Wawancara
SEA Games 2011
RD: Target Saya Medali Emas
Pelatih Timnas U-23, Rahmad Darmawan, memuji permainan anak asuhnya. "Kita punya peluang memenangkan pertandingan dengan Malaysia," tegasnya.
Polling Bola
