Sukses

4 Momen Ikonis Duel Liverpool Vs MU

Liputan6.com, Liverpool - Laga Liverpool versus Manchester United (MU) di matchday kedelapan Liga Inggris 2016/2017 bisa dibilang salah satu duel terbaik di kompetisi di Tanah Ratu Elizabeth itu. Bahkan, dikatakan sebanding dengan El Clasico (Real Madrid versus Barcelona) dan bahkan lebih penting daripada derby melawan Everton maupun Manchester City.

Duel yang bakal berlangsung di Anfield, Selasa (18/10/2016) dinihari WIB, itu disebut sebagai penanda untuk memprediksi siapa yang memiliki kesempatan lebih baik merebut gelar Liga Inggris musim ini: Liverpool atau MU? Namun, ada ketimpangan melihat peta persaingan kedua tim ini.

MU, yang diasuh Jose Mourinho diketahui telah menelan dua kekalahan dalam lima pertandingan terakhir. Sementara Liverpool belum terkalahkan dalam lima laga Liga Inggris.

Di balik rekor kedua tim, ada sedikit cerita tentang sejarah kedua tim. Lantas apa saja yang belum diketahui penikmat sepak bola di Inggris?

Berikut empat momen penting paling ikonis dalam pertemuan Liverpool versus MU seperti dikutip dari Sportskeeda.
1 dari 5 halaman

1. Selebrasi Kontroversial Gary Neville

Permusuhan antara Inggris dan Liverpool telah ada selama bertahun-tahun. Baik di antara pemain maupun pendukung masing-masing. Namun, ada perilaku yang kurang menyenangkan ketika Gary Neville melakukan selebrasi pada Januari 2006.

Seperti biasa duel ini berlangsung panas. Sepanjang 45 menit babak pertama berlangsung Liverpool maupun MU belum mampu memecahkan kebuntuan. Hingga akhirnya petaka datang di menit akhir.

Adalah Rio Ferdinand yang jadi pahlawan kemenangan MU setelah sundulannya tidak mampu dihalau Reina. Neville berlari sepanjang lapangan Old Trafford, menuju tribun yang dipadati fans Liverpool, dan merayakan kemenangan dengan selebrasi penuh emosi.

Gary Neville merasa tidak ada yang salah dengan cara dia merayakan gol kemenangan MU atas Liverpool itu. "Saya akan minta maaf jika saya berjalan ke salah satu pemain mereka dan mencoba untuk meremehkan mereka. Tapi, ini adalah sebuah perayaan," kata Gary Neville, kala itu.

2 dari 5 halaman

2. Gerrard Cium kamera

Laga panas lainnya antara Manchester United melawan Liverpool terjadi pada 15 Maret 2009 di Old Trafford. Awalnya tuan rumah diprediksi bakal menang mudah atas tamunya setelah Cristiano Ronaldo mencetak gol melalui bola mati (penalti) di menit 23.

Namun situasi dengan cepat berubah ketika Fernando Torres, Steven Gerrard, Fabio Aurelio dan Andrea Dossena mencetak empat gol sekaligus mengantarkan The Reds menang 1-4. Yang membuat penggemar tuan rumah kesal adalah kelakuan Stevie G.

Usai membobol gawang Edwin van der Sar, Gerrard langsung mencium kamera di pinggir lapangan dan merayakannya bersama rekan-rekan setim di tribun Liverpool. Tampaknya Gerrard berusaha memancing amarah dan memprovokasi tindakan Gary Neville seperti yang ia lakukan tiga musim lalu.

3 dari 5 halaman

3. Hattrick Barbatov

Pada 9 September 2010 duel Liverpool versus Manchester United berlangsung sengit. Namun ada satu nama yang menjadi sorotan tajam media kala itu, yakni Dimitar Berbatov. Penyerang Setan Merah itu berhasil mencatatkan sejarah pada laga kali ini dengan mencetak tiga gol.

Berbatov masuk kategori istimewa karena ia termasuk salah satu dari segelintir nama yang pernah membuat trigol dalam North-West Derby. Saat itu, Berbatov membawa United unggul tiga gol terlebih dulu sebelum akhirnya Liverpool dua kali menipiskan skor.

Gol kedua sang pemain terbilang spektakuler lantaran dilakukan tanpa melihat gawang alias overhead kick. Akankah peristiwa itu kembali terulang awal pekan ini?

4 dari 5 halaman

1 The Spice Boys

Pada masa kepelatihan Roy Evans, dia berhasil mengembalikan ciri khas permainan Liverpool, yakni pass and move. Akan tetapi, permainan apik dan indah The Reds masa itu tidak diimbangi determinasi dan agresivitas yang memadai dari pemainnya, yakni Jamie Redknapp, Robbie Fowler, Steve McManaman, Jason McAteer dan David James.

Oleh karena itu, Liverpool pada musim 1994-1995 sering disebut 'Spice Boys'. Tapi situasi itu dengan sekejap berubah ketika bertemu dengan Manchester United di final Piala FA 1996. Karena gaya hidup super mewah justru dibawanya ke dalam pertandingan tersebut di mana para pemain Liverpool menggunakan jas Armani berwarna krem.

Menurut tradisi, pemain biasanya tiba di menggunakan jersey andalan mereka, dan ketika tim Liverpool mengenakan jas-jas flamboyan, media dan oposisi mereka terkejut. Mereka akhirnya dicibir oleh para pendukung ketika kalah.