Sukses

Tiyo Marijo, Atlet Master Sarat Prestasi

Liputan6.com, Jakarta Prestasi cemerlang kembali ditunjukkan atlet master Koptu Marinir (Purn) Soetiyo. Atlet veteran ini, berhasil menyabet medali emas kembali dalam "30 th Malaysian International Open Master Athletics Championship, di Stadium University Malaysia Kuala Lumpur, beberapa waktu  lalu.

Soetiyo berhasil menjuarai lomba lari 100 meter  dengan catatan waktu 16 detik ,17 /100 m untuk  peserta umur 75 – 79 tahun.

Sukses yang diraih pria kelahiran Purwodadi, 19 September 1938 ini, mengulang prestasi di ajang yang sama pada 12 hingga 14 Juni 2015 di Bukit Jalil, Malaysia. Ketika itu, Soetiyo  keluar sebagai juara  lomba lari 100 m untuk  peserta umur 75 – 79 tahun dengan waktu 16 detik.

Atlet veteran atau atlet master adalah sebutan bagi para atlet berusia di atas 35 tahun, yang masih aktif melakukan olah raga atletik. Di tingkat dunia kejuaraan atlet master ada di bawah naungan World Master Athletic Champhionship (WMAC).. Kejuaraan itu berlangsung setiap dua tahun sekali, dan sudah digelar sejak 1975. Sedang di tingkat Asia ada Asia Masters Athletic Champhionship.    

Soetiyo mulai  menggeluti bidang olah raga atletik setelah pensiun. Di cabang ini “Pak Tiyo Marijo” - sebutan akrab Soetiyo di kalangan atlet veteran- mengikuti lebih 80 lomba dan kejuaraan atlet master. Kakek 7 cucu  ini aktif mengikuti kejuaraan atletik master/veteran baik nasional maupun internasional.

“Setelah pensiun, baru tahun 1985 saya  mulai aktif di PAVI (Persatuan Atlet Veteran Indonesia) dan PAMI (Persatuan Atlet Master Indonesia).  Dan, berusaha untuk mengikuti lomba dan kejuaraan. Saya,  dalam seminggu minimal tiga kali lari. Dengan lari saya merasa sehat. Lihat badan saya masih gagah to,” tutur pria 78 tahun ini.  

1 dari 2 halaman

Berpikir Positif

Hingga usia sekarang  Pak Tiyo masih kelihatan sangat bugar. Menurut dia ada tiga resep yang membuat dia tetap sehat.  

“ Ada tiga hal yang menjadi pedoman saya agar supaya tetap sehat, satu selalu berpikir positif dan “ndablek”. “Ndablek” dalam artian positif. Jangan terlalu memikirkan masalah yang kita hadapi," katanya.

"Kedua, mengatur pola makan. Makanan yang bagus adalah yang rebus-rebusan dan “makanan ndeso”, seperti singkong, talas, pisang yang dimasak dengan direbus.  Jangan makan gorengan. Yang ketiga. Tetap membina fisik dengan olah raga, olah raga yang murah ya , lari."

Namun, Pak Tiyo juga sempat mengeluh soal dukungan. Menurut dia, semua kejuaraan yang diikutinya tidak mendapat dukungan finasial dari pemerintah, terlebih kejuaraan atletik master di luar negeri.

“Selama ini, saya berusaha mencari dukungan sponsor dari perusahaan swasta. Lama sebelum mengikuti pertandingan saya mengajukan proposal yang diketahui oleh PAVI atau PAMI ke perusahaan-perusahaan.  Ada yang mendukung tiket, ada yang memberi biaya akomodasi. Ya alhamdulillah ada dukungan dan jalan. Saya lakukan dengan semangat demi nama baik Indonesia. Dan selama ini teman-teman saya menghargai jerih payah saya. Mereka memanggil saya “Marijo” ya Marinir KKO Jowo," tutur Pak Tiyo.

 

Artikel Selanjutnya
Aksi Pelari Jamaika Menari dengan Wanita-Wanita Cantik
Artikel Selanjutnya
Menpora Ingin Tim Futsal Raih Target di SEA Games 2017