Sukses

Kiprah 5 Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di bawah kepemimpinan Edy Rahyamadi kembali mencanangkan program naturalisasi pemain untuk membentuk tim nasional (Timnas). Meski bakal berpotensi menghambat munculnya bibit pemain lokal, Edy selaku pimpinan tertinggi PSSI beralasan, program itu hanya sementara saja.

Edy mengaku pihaknya ingin mengejar target jangka pendek, yakni menjuarai SEA Games 2017. Selebihnya, Edy berjanji akan tetap mengutamakan program pembinaan jangka panjang bagi pembentukan Timnas Indonesia.

Menaturalisasi pemain memang bukan program baru bagi Indonesia. Di era Nurdin Halid, PSSI juga rajin meng-Indonesiakan pemain asing. Selain mereka yang memiliki garis keturunan Indonesia, sejumlah pemain yang asing yang telah bertahun-tahun merumput di Tanah Air juga diangkat jadi Warga Negara Indonesia (WNI).

Namun hasilnya tetap sama. Indonesia tak kunjung berpretasi di ajang internasional. Prestasi tertinggi yang diraih Tim Merah Putih dalam 10 tahun terakhir paling baik hanyalah finalis turnamen sekelas Piala AFF saja.

Namun tidak semua pemain yang diimpor memberikan kontribusi postif kepada timnas Indonesia. Sebagian justru terbilang hanya sekali pakai. Berikut ini lima pemain naturalisasi yang pernah memperkuat timnas.

1 dari 6 halaman

Christian Gonzales

Penyerang asal Uruguay ini merupakan pemain pertama yang dinaturalisasi oleh PSSI. Meski tidak memiliki garis keturunan Indonesia, Gonzales dianggap layak menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) setelah bertahun-tahun merumput di Indonesia. Ketajamannya sebagai striker dianggap bakal membantu barisan depan timnas. 

Kiprahnya dimulai pada Piala AFF 2010 lalu. Dia jadi salah satu pemain kunci di balik kesuksesan Indoesia lolos ke final dengan tiga golnya.

Sejauh ini, El Loco mengoleksi 29 caps di Indonesia dengan catatan cukup apik, yakni 12 gol. Namun sepertinya, kiprah dia di timnas sudah berakhir lantaran usianya kini sudah menginjak 40 tahun.

2 dari 6 halaman

Sergio van Dijk


Berbeda dengan El Loco, Van Dijk masih memiliki garis keturunan Indonesia. PSSI kemudian tergiur menaturalisasi pemain Belanda itu setelah tampil memukau bersama tim sebelumnya, Brisbane Roar.

Namun Van Dijk justru gagal bersinar bersama tim Merah Putih. Pada Piala AFF 2014 lalu, Van Dijk justru gagal mengangkat performa timnas yang hanya finis di babak grup. Dalam enam caps, Van Dijk hanya mengoleksi sebiji gol saja buat Indonesia. Apalagi, dia tak sama sekali mencetak gol di Piala AFF 2014 silam.

3 dari 6 halaman

Raphael Maitimo


Maitimo sebenarnya sempat menjadi harapan sebagai tumpuan lini tengah timnas Indonesia. Namun, dia juga belum memberikan andil berarti di tim Merah Putih sejak dinaturalisasi.

Sebab, sejauh ini gelandang 32 tahun itu tak mampu menghadirkan gelar. Bahkan, dua gelaran Piala AFF, yakni 2012 san 2014, dia tak mampu membawa Indonesia lolos fase grup. Sejauh ini, Maitimo sudah koleksi 21 penampilan dengan empat gol. Belakangan, Maitimo justru kalah bersaing dengan gelandang lokal.

4 dari 6 halaman

Victor Igbonefo


Igbonefo juga tidak memiliki garis keturunan Indonesia. PSSI menaturalisasi pemain asal Nigeria itu setelah lima tahun memperkuat Persipura Jayapura. Kehadiran Igbonefo awalnya diharapkan mampu memperkokoh lini belakang timnas Indonesia yang kerap dianggap sebagai biang keladi kekalahan di partai-partai penting.

Namun kehadiran Igbonefo juga tidak memberi banyak warna. Dia satu tim dengan Maitimo dan Van Dijk kala Indonesia gagal lolos dari babak grup Piala AFF 2014 silam. Igbonefo sendiri sejauh ini sudah koleksi 10 caps.

5 dari 6 halaman

Stefano Lilipaly


Fano pada Piala AFF 2016 lalu tampil heroik bersama timnas Indonesia. Dia memberi warna di lini tengah Indonesia. Mantan pemain Persija Jakarta tersebut sukses mencetak dua gol dan satu assist.

Ini membuktikan bahwa Fano bisa jadi pembeda dalam setiap laga. Pemain SC Telstar ini juga selalu jadi andalan Alfred Riedl dalam Piala AFF 2016. Posisinya tak tergantikan, baik itu berduet dengan Evan Dimas, maupun Bayu Pradana. Namun, Fano juga belum berhasil membawa tim Merah Putih mengangkat trofi.


I. Eka Setiawan