Sukses

5 Pemain Berdarah Indonesia di Sepak Bola Eropa

Liputan6.com, Jakarta - Ternyata banyak pesepak bola yang bermain di Eropa memiliki darah Indonesia. Meski di antara mereka memilih negara lain, nama Indonesia tetap saja membuat bangga.

Saat ini, timnas Indonesia tengah menanti kehadiran Ezra Walian. Ezra Walian memang belakangan menjadi sorotan di Tanah Air.

Bukan tanpa sebab, pemain 19 tahun keturunan Indonesia-Belanda itu berkeinginan membela timnas. Dia merupakan pemain Jong Ajax Amsterdam yang berlaga di Eerste Divisie.

Dia punya darah Indonesia dari sang ayah, Glen Walian yang berasal dari Manado. Sementara almarhum ibunya, Linda Bosch, berasal dari Belanda.

Sebelum Ezra Walian, banyak pesepak bola yang juga ternyata memiliki darah Indonesia. Meski akhirnya, mereka memilih untuk menjadi warga negara lain.

Berikut Liputan6.com rangkum lima pemain berdarah Indonesia.
1 dari 6 halaman

Radja Nainggolan

Radja Nainggolan

Gelandang sepak bola Belgia, memiliki ayah berdarah Batak dan ibu berkebangsaan Belgia. Walaupun berdarah Batak, Radja Nainggolan lebih memilih timnas Belgia ketimbang memperkuat Indonesia.

Radja beberapa kali mengungkapkan cintanya kepada Indonesia. Bahkan, pada Piala AFF 2016 lalu, pemain AS Roma tersebut mengirimkan sebuah video penyemangat untuk pasukan Alfred Riedl.

Saat ini, Radja menjadi rebutan tim-tim elite Liga Italia mulai Inter Milan, Juventus hingga Chelsea. Namun, dia tampaknya akan bertahan bersama AS Roma.

2 dari 6 halaman

Robin van Persie

Robin van Persie

Penyerang Belanda yang lahir di Rotterdam pada 6 Agustus 1983 itu ternyata memiliki darah Indonesia. Sang nenek dikabarkan berasal dari Jawa Timur, tepatnya Surabaya.

Darah Indonesia yang mengalir dalam diri Robin van Persie berasal dari garis ibu. Dari cerita yang bergulir dalam keluarga, disebut-sebut nenek ibunda Robin van Persie masih keturunan Indonesia dan berasal dari Surabaya. Jose Ras sang ibu dulu memilih tinggal di Belanda.

Van Persie termasuk pasukan timnas Belanda yang memperkuat negara tersebut di Piala Dunia 2006, Piala Eropa 2008, dan Piala Dunia 2010.

3 dari 6 halaman

Emil Audero

Emil Audero

Emil, begitu sapaan akrabnya, masih berhubungan baik dengan Edi Mulyadi, ayahnya yang kini tinggal di Torino. Kiper mudah Juventus ini pernah lahir di Mataram, Lombok.

Namanya kian bersinar ketika menjadi penjaga gawang utama tim Juventus Allievi (U-17) dan tim nasional Italia U-16. Karena penampilannya yang gemilang bersama Juventus Allievi, Emil mendapatkan penghargaan The Young Italy Talents of The Future 2012.

Dua musim lalu, Antonio Conte tertarik untuk membawanya ke tim utama. Dia pun sempat diajak untuk berlatih bersama tim utama saat Juventus akan menghadapi Sampdoria di ajang Serie A.

4 dari 6 halaman

John Heitinga

John Heitinga

John Heitinga merupakan bek tengah AFC Ajax dan timnas Belanda. Dia mengawali karier di akademi sepak bola ARC dan Ajax. Selain sebagai bek tengah, ia juga bisa bermain sebagai gelandang bertahan.

Heitinga pernah bermain untuk Ajax dan Atletico Madrid sebelum bergabung dengan Everton pada September 2009. Ia memperkuat timnas Belanda di Euro 2004, Piala Dunia 2006, dan Piala Dunia 2010.

Heitinga pernah berujar, "Ayah saya benar berasal dari Indonesia. Dan lahir di Jakarta." Hubungan bek Belanda ber-caps 85 ini dengan Indonesia ternyata berawal dari kakeknya, Gijsbert Johannes Heitinga, yang berasal dari Belitung.

5 dari 6 halaman

Nigel de Jong

Nigel de Jong

Siapa yang tidak kenal dengan gelandang tengah yang membawa Belanda menjadi finalis Piala Dunia 2010? Bek yang kini bermain untuk klub Turki, Galatasaray itu ternyata punya darah Indonesia.

De Jong merupakan pemain kelahiran Belanda berdarah Suriname. Ayahnya, Jerry de Jong, adalah mantan pemain PSV Eindhoven, dan pernah tampil tiga kali memperkuat timnas Belanda.

Gelandang bertahan yang terkenal keras ini memiliki garis keturunan dari ibunya yang berasal dari Ambon, Maluku. Sementara ayahnya merupakan orang Suriname. Meski demikian, De Jong mengaku tidak mengetahui sedikit pun mengenai bahasa daerah ibunya.

(I. Eka Setiawan)