Sukses

4 Tim dengan Trio Striker Terbaik Dunia

Liputan6.com, Jakarta - Dalam pertandingan sepak bola penentuan formasi menjadi faktor paling penting ketimbang pemain. Sejauh ini, taktik yang diterapkan pelatih sudah mengalami perkembangan dan tak sedikit yang memodifikasinya.

Seiring waktu, formasi mulai bergeser dari 4-4-2, 4-2-3-1, ke pola formasi 4-3-3. Sudah banyak pelanggan setia yang menggunakan sistem itu, sebut saja Barcelona, Real Madrid, hingga Chelsea.

Lalu klub mana saja yang sangat mematikan dengan pola sistem menyerang tiga striker ini?

Berikut 4 Tim dengan trio striker terbaik di dunia:

1 dari 5 halaman

Paris Saint-Germain (Di Maria, Cavani, Draxler)

Selama menangani Paris Saint Germain, perjalanan Unai Emery di musim ini tidaklah mudah. Pasalnya performa anak asuhnya terlihat naik turun alias tak konsisten di setiap pertandingannya.

Berkat ketekunannya, Emery akhirnya sukses menemukan formasi ideal buat klub dengan menempatkan Angel Di Maria, Edinson Cavani, dan Julian Draxler. Trisula ini mampu mendongkrak popularitas klub dengan menjaga rekor tak terkalahkan dalam lima pertandingan terakhir.

Barcelona adalah korban terakhir keberingasan juara Ligue 1 di Liga Champions dengan menelan kekalahan 0-4 dari PSG. Uniknya, ketiga pemain tersebut masing-masing menyumbangkan gol.

2 dari 5 halaman

Bayern Muenchen (Ribery, Lewandowski, Robben)

Robert Lewandowski tetap menjadi salah satu striker terbaik di dunia. Namun penyerang asal Polandia itu tidak akan mampu meruntuhkan pertahanan lawan tanpa bantuan pemain sayap mereka, yakni Franck Ribery dan Arjen Robben.

Usia kedua winger Bayern Muenchen itu memang sudah tak muda lagi (33 tahun), tapi Ribery dan Robben masih mempunyai insting yang tajam dalam menyuplai bola dan membobol gawang lawan. Tak aneh jika Carlo Ancelotti menempatkan Muenchen sebagai penguasa Bundesliga.

Tak hanya di kompetisi domestik saja. Si Merah atau Die Roten juga masih disegani oleh klub di Eropa. Itu terbukti ketika Lewandowski dkk mengamuk dengan menyarangkan lima gol ke gawang Arsenal di leg pertama babak 16 besar Liga Champions.

3 dari 5 halaman

Real Madrid (James Rodriguez, Karim Benzema, dan Cristiano Ronaldo)

Tak sah rasanya jika tidak menempatkan Real Madrid sebagai pemilik formasi menyerang 4-3-3. Tahun ini Zinedine Zidane agak sedikit memodifikasi penempatan pemain depannya setelah Gareth Bale mengalami cedera panjang.

Adalah James Rodriguez yang mampu menggantikan peran Bale dengan sangat baik. Pemain yang dibeli dengan harga 80 juta Euro dari AS Monaco ini memiliki peran yang sangat vital.

Rodriguez sering kali bergantian tempat dengan Toni Kroos untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Bale. Kehebatan Zidane dalam menempatkan pemain inilah yang patut diacungi jempol, terbaru Los Blancos menghajar Napoli dengan skor 3-1.

4 dari 5 halaman

Barcelona (Neymar, Suarez, Messi)

Mendengar formasi 4-3-3 pasti langsung menunjuk Barcelona. Hampir satu dekade Los Blaugrana menerapkan taktik andalannya tersebut. Keberhasilan itu didukung oleh kecerdikan trio MSN (Messi, Suarez,dan Neymar) yang pandai mengacak-acak pertahanan lawan dengan sangat baik.

Di bawah komando Luis Enrique, sistem menyerang ini tampak sedikit dimodifikasi dengan menerapkan formasi 3-4-3. Tentunya itu merupakan sistem yang dikenal baik oleh penggemar Barca lantaran digunakan oleh Johan Cruyff di era Dream Team dan Pep Guardiola juga memainkannya dalam beberapa kesempatan.

Namun apa yang terjadi ketika ada klub yang sama-sama menggunakan sistem menyerang?

Enrique justru terlihat frustrasi saat digulung Paris Saint Germain (PSG) dengan skor 0-4, di leg pertama babak 16 besar Liga Champions. Ini terjadi lantaran tuan rumah saat itu tak memberikan ruang gerak kepada trio MSN ditambah aliran bola dari tengah lapangan sering kali terbuang sia-sia.

Artikel Selanjutnya
Ancelotti Minta MU Lupakan Vidal
Artikel Selanjutnya
Manajer MU Kecam Real Madrid