Dalih Robinho Tinggalkan City
Manchester City ME Gunawan05/09/2010 16:45 | Manchester City
Robinho (guardian.co.uk)
Artikel Terkait
Liputan6.com, Manchester: Mari kita menengok ke belakang. Tepatnya, dua tahun lalu ketika bursa transfer musim panas 2008 memasuki hari pamungkas. Secara mengejutkan, klub medioker Manchester City yang saat itu baru beralih kepemilikan, dari Thaksin Shinawatra ke Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, membuat gebrakan dengan membeli bintang Real Madrid asal Brasil, Robinho, dengan rekor fee transfer sepanjang sejarah persepakbolaan Inggris, 32,5 juta pound.
Namun, hanya satu setengah musim Robinho tampil di premiership. Pada 28 Januari lalu, Robinho dipinjamkan ke Santos FC. Setelah masa sewa usai, Robinho menyusul jejak Zlatan Ibrahimovic dengan bergabung bersama AC Milan. Robinho pun mengakui jika keputusannya itu dilatarbelakangi sejumlah sebab.
Dengan lantang Robinho menunjuk dua mantan bosnya, Mark Hughes dan Roberto Mancini, sebagai faktor utama di balik keputusannya hengkang. Di mata Robinho, Hughes dan Mancini sama-sama tidak mampu memahami apa yang ia inginkan. Tidak hanya itu Robinho menilai jika City di bawah arahan Hughes dan Mancini tidak lebih dari sekadar hidup di perkantoran.
“Baik Hughes dan Mancini tidak bisa memahami saya. Mungkin, dari faktor sepakbola, mereka memercayai saya. Tapi, hal itu tidak cukup. Hubungan antara pemain dan klub kurang terjalin dengan baik. Layaknya kantor, datang berlatih dan bermain yang diakhiri dengan ucapan selamat tinggal. Saya orang Brasil. Saya tidak bisa unjuk kabisa jika saya tidak gembira dalam kehidupan pribadi saya sendiri,” aku Robinho.
“Itulah masalahnya. Saya seorang pemain sepakbola yang khusus. Saya butuh bermain dalam kondisi gembira. Itulah yang saya dapatkan di Real Madrid. Tapi, tidak di City. Mungkin, seharusnya saya tidak meninggalkan Real Madrid,” imbuhnya.
Robinho mengaku jika ia tidak menyangka dirinya bakal bergabung dengan The Citizens. Sebab, ketika itu Robinho berhasrat bermain bersama Chelsea, klub yang sedang ditangani Luiz Felipe Scolari, mantan pelatihnya di Timnas Brasil. Namun, di hari terakhir bursa, City datang dan menyalip di tikungan.
“Tujuanku Chelsea dan Luiz Felipe Scolari. Tapi, di saat-saat akhir, City datang. Meski saya menerima, saya bukan faktor penentu dalam transfer. Segala sesuatunya dilakukan klub. Akhirnya, Mark Hughes datang dan mengklaim saya bergabung dengan City. Ia sangat berperan dalam proses deal tersebut.”
Awalnya, Robinho mengakui jika langkahnya bergabung ke City adalah positif. Apalagi, ketika itu City sudah merekrut rekannya di timnas, Elano Blumer dan Jo Alves. Walhasil, Robinho perlahan-lahan mulai bisa beradaptasi. Namun, seiring dengan hengkangnya Elani, Robinho mulai masam. “Mungkin, Hughes tidak tahu bagaimana caranya menduetkan kami dalam skuad,” cibir Robinho.
Lebih lanjut, Robinho mengklaim jika Mancini tidak menaruh kepercayaan pada dirinya. “Hengkang ke Santos menjadi solusi terbaik. Sebab, jika saya tetap tinggal di City, saya tidak akan mungkin tampil di Piala Dunia. Proses peminjaman itu benar-benar sukses. Tampilan saya kembali membaik, klub pun meraih gelar. Karenanya, posisi saya di Piala Dunia aman. Mereka (Santos) mencoba memperpanjang masa peminjaman. Tapi, City menolak dan memutuskan untuk menjual saya,” terang Robinho.
Terakhir, Robinho mengaku jika ia sulit beradaptasi dengan kehidupan di Kota Manchester. “Ketika saya tiba, direktur City mengatakan dalam waktu dekat klub bakal melampaui Manchester United. Namun, waktu berjalan, tidak ada yang berubah. Manchester adalah venue yang sempurna untuk menggelar sepakbola. Tapi, benar-benar kota yang ngeri untuk ditinggali.”(MEG/People/Soccernet)
Namun, hanya satu setengah musim Robinho tampil di premiership. Pada 28 Januari lalu, Robinho dipinjamkan ke Santos FC. Setelah masa sewa usai, Robinho menyusul jejak Zlatan Ibrahimovic dengan bergabung bersama AC Milan. Robinho pun mengakui jika keputusannya itu dilatarbelakangi sejumlah sebab.
Dengan lantang Robinho menunjuk dua mantan bosnya, Mark Hughes dan Roberto Mancini, sebagai faktor utama di balik keputusannya hengkang. Di mata Robinho, Hughes dan Mancini sama-sama tidak mampu memahami apa yang ia inginkan. Tidak hanya itu Robinho menilai jika City di bawah arahan Hughes dan Mancini tidak lebih dari sekadar hidup di perkantoran.
“Baik Hughes dan Mancini tidak bisa memahami saya. Mungkin, dari faktor sepakbola, mereka memercayai saya. Tapi, hal itu tidak cukup. Hubungan antara pemain dan klub kurang terjalin dengan baik. Layaknya kantor, datang berlatih dan bermain yang diakhiri dengan ucapan selamat tinggal. Saya orang Brasil. Saya tidak bisa unjuk kabisa jika saya tidak gembira dalam kehidupan pribadi saya sendiri,” aku Robinho.
“Itulah masalahnya. Saya seorang pemain sepakbola yang khusus. Saya butuh bermain dalam kondisi gembira. Itulah yang saya dapatkan di Real Madrid. Tapi, tidak di City. Mungkin, seharusnya saya tidak meninggalkan Real Madrid,” imbuhnya.
Robinho mengaku jika ia tidak menyangka dirinya bakal bergabung dengan The Citizens. Sebab, ketika itu Robinho berhasrat bermain bersama Chelsea, klub yang sedang ditangani Luiz Felipe Scolari, mantan pelatihnya di Timnas Brasil. Namun, di hari terakhir bursa, City datang dan menyalip di tikungan.
“Tujuanku Chelsea dan Luiz Felipe Scolari. Tapi, di saat-saat akhir, City datang. Meski saya menerima, saya bukan faktor penentu dalam transfer. Segala sesuatunya dilakukan klub. Akhirnya, Mark Hughes datang dan mengklaim saya bergabung dengan City. Ia sangat berperan dalam proses deal tersebut.”
Awalnya, Robinho mengakui jika langkahnya bergabung ke City adalah positif. Apalagi, ketika itu City sudah merekrut rekannya di timnas, Elano Blumer dan Jo Alves. Walhasil, Robinho perlahan-lahan mulai bisa beradaptasi. Namun, seiring dengan hengkangnya Elani, Robinho mulai masam. “Mungkin, Hughes tidak tahu bagaimana caranya menduetkan kami dalam skuad,” cibir Robinho.
Lebih lanjut, Robinho mengklaim jika Mancini tidak menaruh kepercayaan pada dirinya. “Hengkang ke Santos menjadi solusi terbaik. Sebab, jika saya tetap tinggal di City, saya tidak akan mungkin tampil di Piala Dunia. Proses peminjaman itu benar-benar sukses. Tampilan saya kembali membaik, klub pun meraih gelar. Karenanya, posisi saya di Piala Dunia aman. Mereka (Santos) mencoba memperpanjang masa peminjaman. Tapi, City menolak dan memutuskan untuk menjual saya,” terang Robinho.
Terakhir, Robinho mengaku jika ia sulit beradaptasi dengan kehidupan di Kota Manchester. “Ketika saya tiba, direktur City mengatakan dalam waktu dekat klub bakal melampaui Manchester United. Namun, waktu berjalan, tidak ada yang berubah. Manchester adalah venue yang sempurna untuk menggelar sepakbola. Tapi, benar-benar kota yang ngeri untuk ditinggali.”(MEG/People/Soccernet)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Bookmark
Wawancara
SEA Games 2011
RD: Target Saya Medali Emas
Pelatih Timnas U-23, Rahmad Darmawan, memuji permainan anak asuhnya. "Kita punya peluang memenangkan pertandingan dengan Malaysia," tegasnya.
Polling Bola
