Sukses

Barcelona, Sekadar Klub Biasa?

Liputan6.com, Barcelona - Barcelona selalu mengumbar slogan Mes Que un Club, atau More Than a Club yang mereka usung. Saking bangganya akan semboyan tersebut, mereka memasangnya pada tribun timur Camp Nou.

Namun, moto itu tidak lagi terasa mencerminkan Barcelona. Manuver dalam menyikapi transfer Neymar menunjukkan El Azulgrana tidak berbeda dari klub lain yang mengedepankan korporat dan bisnis.

Salah satu contohnya adalah aksi klub tidak lama setelah Neymar pergi ke Paris Saint-Germain (PSG) dengan nilai transfer 222 juta euro, atau sekitar Rp 3,5 triliun.

Mereka menyeret Neymar ke pengadilan dan menuntut pemain asal Brasil membayar kompensasi senilai sembilan juta euro. Barcelona merasa dirugikan Neymar karena tidak menghormati kontrak yang ditandatangani setahun sebelumnya.

Transfer Neymar pun membuka borok di dalam Barcelona, dengan sorotan tertuju kepada manajemen yang berkuasa.

1 dari 3 halaman

Kesalahan Masa Lalu

Pendukung Barcelona membakar poster gelandang Real Madrid, Luis Figo. (AFP/Christophe Simon)

Kepergian Neymar sebenarnya bukanlah pukulan telak pertama Barcelona di bursa transfer. Mereka bahkan pernah merasa lebih sakit hati ketika Luis Figo memilih pergi ke musuh bebuyutan, Real Madrid, pada musim panas 2000.

Ketika itu, Joan Gaspart yang tengah menduduki kursi presiden membalas dengan membeli pemain sebanyak mungkin untuk mengisi lubang yang ditinggalkan Figo. Akan tetapi, dia bertindak gegabah dan tidak jeli menyikapi bursa transfer.

Pembelian Figo menciptakan inflasi di pasar pemain. Akibatnya, Barcelona harus membayar lebih mahal ketimbang harga pasar untuk muka-muka anyar tersebut. Mereka adalah Marc Overmars, Gerard Lopez, Alfonso Perez, dan Emmanuel Petit.

Tidak berhenti sampai di situ, Gaspart kemudian merekrut Javier Saviola, Geovanni, Philippe Christanval, Fabio Rochemback, dan Francesco Coco setahun berselang.

Para pembelian tersebut tidak ada yang menunjukkan kontribusi positif. Kehadiran mereka pun menjadi simbol periode buruk dalam sejarah panjang klub, hingga akhirnya Gaspart pergi pada 2003.

"Kepergian Figo menghancurkan kami. Saya coba menyelamatkan keadaan. Tapi langkah itu juga bencana. Sebab, semua tahu kami punya banyak uang (hasil penjualan Figo) dan memiliki beban untuk belanja besar," papar Gaspart, dilansir Soccernet.

2 dari 3 halaman

Mengulang Blunder?

Setelah Neymar pergi, Josep Maria Bartomeu sebenarnya bisa belajar dari Gaspart dan diam saja di pasar transfer yang harganya tengah bergejolak. Lagipula, Barcelona memiliki La Masia, akademi yang melahirkan pemain yang menjadi tulang punggung tim. Mereka tidak perlu mencari terlalu jauh untuk menemukan amunisi baru.

Barcelona juga dapat memanfaatkan momen ini setelah mengabaikan La Masia dalam beberapa tahun terakhir. Harus diakui, El Azulgrana belakangan memprioritaskan pemain luar ketimbang memberi kesempatan produk sekolah sendiri.

Taktik tersebut membuat banyak siswa La Masia keluar mencari waktu bermain di tempat lain, beberapa di antaranya Hector Bellerin, Gerard Deulofeu, dan teranyar dua sosok yang dulu disebut bakal menggantikan Lionel Messi: Alen Halilovic dan Lee Seung-woo.

Posisi Josep Maria Bartomeu sebagai presiden Barcelona dipertanyakan. (AFP/Lluis Gene)

Seperti diketahui, Bartomeu tidak bertindak demikian. Mereka menghabiskan mayoritas pemasukan hasil transfer Neymar, tepatnya 105 juta euro, bagi pemuda berusia 20 tahun yang baru 79 kali tampil di level tertinggi, yakni Ousmane Dembele.

Gegabahnya Barcelona turut terlihat pada hari terakhir bursa transfer Spanyol, Jumat (1/9/2017). Frustrasi karena gagal meyakinkan Liverpool agar melepas Philippe Coutinho, mereka membidik dua mantan pemain Real Madrid, yaitu Angel Di Maria dan Mesut Ozil.

Kenyataannya, Barcelona gagal mendapatkan para pemain tersebut. Akankah ini menjadi berkah atau petaka bagi Barcelona, hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Artikel Selanjutnya
Pele: Paulinho Bakal Tampil Mengejutkan di Barcelona
Artikel Selanjutnya
3 Alasan Messi Sebaiknya ke Manchester City