Sukses

Selain Saddil, 3 Kartu Merah Ini Pernah Lukai Timnas Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Saddil Ramdani seharusnya menjadi pembeda di dalam skuat Timnas Indonesia U-19 yang berlaga di Piala AFF U-18 2017. Selain punya skill dan tendangan geledek, pengalamannya tampil di level yang lebih tinggi di SEA Games 2017 menjadi nilai lebih bagi Saddil saat tampil bersama skuat Garuda Nusantara.

Namun Saddil tersungkur oleh kerikil kecil. Provokasi yang dilakukan pemain Thailand dengan cepat menyulut emosinya. Tendangan ke bagian punggung langsung dibalas dengan menyikut dada pelaku. Akibat kejadian ini, wasit yang memimpin jalannya pertandingan mengeluarkan kartu merah bagi Saddil yang baru masuk selama 30 detik.

Timnas Indonesia U-19 pun harus tampil dengan 10 pemain di babak kedua. Meski tetap mendominasi, Garuda Nusantara gagal mencetak gol hingga laga semifinal di Thuwunna Stadium itu berakhir. Celakanya, di babak adu penalti, Garuda Nusantara kalah 2-3 sehingga terpaksa merelakan tiket final ke tangan tim Gajah Putih.

Pelatih Timnas Indonesia U-19, Indra Sjafri menganggap kartu merah yang diberikan kepada Saddil tidak tepat. Sebab yang memulai insiden tersebut adalah pemain Thailand. Menurut pelatih asal Sumatera Barat itu, Saddil seharusnya diberi kuning saja.

Keputusan wasit mengeluarkan kartu merah bagi sebuah pelanggaran memang kerap menimbulkan perdebatan. Namun menyikut pemain lawan dengan sengaja tetaplah pelanggaran berat dalam sepak bola. Tidak perduli apakah aksi tersebut dilakukan dengan sekuat tenaga atau tidak, keputusan wasit mengeluarkan kartu merah bakal sulit ditawar.

 

 

1 dari 5 halaman

Dari Beckham Hingga Zidane

Kartu merah sendiri terkadang sulit dihindari. Upaya penyelamatan saat terdesak lawan juga tidak jarang harus dibayar pemain dengan meninggalkan lapangan. Tetapi bila hal ini didapat pada momen yang tidak tepat, kerugian lebih besar justru datang menghampiri. 

Celakanya, mengontrol emosi juga bukan pekerjaan mudah bagi pemain. Sebab sebagai manusia, rasa kesal terkadang muncul bila terus menerus mendapat gangguan dari lawan--apalagi bila sudah menjurus ke permainan kasar. Tidak hanya bagi pemain berusia muda, pemain profesional ternama juga pernah mengalami kejadian seperti ini.

Sebut saja Zinedine Zidane yang menanduk Marco Materazzi pada final Piala Dunia di Berlin yang mempertemukan Prancis dan Italia pada 2006 lalu. Saat itu, Zizou yang tidak tahan dengan ocehan Materazzi juga lepas kontrol. Dia menanduk Materazzi saat babak tambahan berlangsung setelah kedua tim imbang 1-1 sepanjang babak normal.

Akibatnya Prancis gagal menambah gol sampai akhirnya kalah 4-5 lewat adu penalti.

Insiden yang sama juga pernah dialami David Beckham ketika Inggris bertemu Argentina di Piala Dunia 1998. Mantan pemain Manchester United itu juga kesal ulah Diego Simeone yang menabraknya dari belakang.

Aksi Beckham juga tidak bermaksud mencederai lawan. Dalam posisi tengkurap di lapangan dia hanya mengaitkan kakinya ke arah Simeone yang berusaha bangkit. Meski demikian, wasit tetap bertindak tegas dan mengeluarkan kartu kuning kedua bagi Bechkam. Argentina pun memenangi laga perdelapan final lewat adu penalti dengan skor 4-3, setelah dalam waktu normal hingga perpanjangan waktu laga melawan Inggris berakhir dengan skor 2-2.

Selain Saddil, sejumlah pemain Indonesia lainnya juga pernah berada dalam situasi yang sama. Kartu merah yang mereka dapatkan harusnya bisa dicegah seandainya mampu menjaga emosi atau lebih berhati-hati dalam melakukan pelanggaran.

Berikut ini tiga insiden kartu merah tidak penting yang pernah lukai timnas Indonesia:

 

2 dari 5 halaman

SEA Games 2017

Setelah Thailand, Vietnam menjadi lawan terberat Timnas Indonesia U-22 di penyisihan Grup B. Garuda Muda berada dalam tekanan sejak awal laga yang berlangsung di Selayang Municipal Council Stadium, Selayang, 22 Agustus lalu. Sepanjang laga, Tim asuhan Luis Milla itu sulit mengembangkan permainan.

Saat tengah berjuang menahan gempuran Vietnam, Hanif Sjahbandi justru melakukan kesalahan yang tidak penting.Ia menyikut pemain Vietnam yang berusaha mengganggunya saat hendak memberikan bola kepada Putu Gede Juni Antara yang melakukan overlap di sisi kanan. Tanpa ampun, wasit memberikan kartu kuning kedua kepada Hanif.

Beruntung para pemain timnas U-22 mampu menahan gempuran Vietnam hingga pertandingan berakhir. Skor 0-0 pun menjadi modal bagus mereka untuk lolos ke semifinal meski akhirnya gagal melaju ke final akibat kekalahan dari Malaysia. Tidak lama setelah laga, Hanif menuai hujatan dari warganet. 

 

 

3 dari 5 halaman

Leg Kedua Final Piala AFF 2016

Konflik yang sempat melanda PSSI dan pemerintah Indonesia sempat membuat timnas Indonesia dilarang bertanding di luar negeri. Situasi ini membuat skuat Garuda tidak terlalu diperhitungkan saat tampil pada Piala AFF 2016 lalu. Setahun lebih absen dari kancah internasional, timnas yang kembali ditangani Alfred Riedl dianggap kurang persiapan untuk tampil pada turnamen dua tahunan antarnegara-negara se-Asia Tenggara tersebut.

Namun Timnas Indonesia tampil mengejutkan. Pelan tapi pasti, pasukan Alfred Riedl berhasil melaju ke final. Bahkan di leg pertama, Indonesia sempat mengejutkan Thailand usai menang dengan skor 2-1 di Pakansari, Bogor.

Dengan hasil ini, Indonesia hanya butuh hasil imbang pada leg kedua yang berlangsung di Thailand untuk membawa pulang gelar juara.

Namun bertanding di Stadion Rajamangala, Bangkok, Sabtu (17/12/2016), gawang Timnas Indonesia justru kebobolan dua gol lewat Siroch Chattong. Tim Merah Putih mati-matian berusaha mengejar ketertinggalan ini. Namun upaya ini justru dinodai aksi Abdul Lestaluhu pada menit ke-90. Pemain PS TNI itu dengan sengaja menendang bola ke arah bench tuan rumah gara-gara terpancing provokasi yang dilakukan pemain lawan.

Insiden ini tentu saja membuat konsentrasi Garuda terpecah. Dengan waktu yang menyisakan masa injury time, plus jumlah pemain yang berkurang, Timnas akhirnya menyerah dengan skor 0-2 dan gagal membawa pulang trofi.

Alfredi Riedl mengecam provokasi yang dilakukan para pemain Thailand saat itu. Namun dia juga tidak membenarkan balasan Abduh. "Bola ke luar sementara pelatih dan pemain berada di dekat bangku cadangan Thailand tapi tidak meberikan padanya dan dia (Abduh) bereaksi dengan salah," tutur pelatih berpaspor Austria itu.

 

4 dari 5 halaman

Pra-Piala Asia 2011

Timnas Indonesia tampil memukau saat bertemu Kuwait pada penyisihan Grup B di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), November 2009. Dalam duel ini, Indonesia sempat unggul lewat gol Budi Sudarsono pada saat injury time babak pertama. Namun di babak kedua, kekuatan Tim Merah Putih berubah setelah Ismed Sofyan diganjar kartu merah di babak kedua. Ismed Sofyan diberi kartu kuning kedua setelah menekel lawan dari belakang.

Tampil dengan 10 pemain, Indonesia akhirnya kebobolan pada menit ke-71. Penyerang Kuwait, Ahmad Ajab berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 yang bertahan hingga pertandingan usai. Dengan hasil imbang ini, peluang Indonesia melaju ke babak utama semakin kecil karena berada di dasar klasemen Grup B dengan 3 poin dari 4 laga.

Pelatih Timnas Indonesia saat itu, Benny Dolo, sangat menyayangkan kartu merah yang diterima Ismed. "Saya pikir kesalahan yang tidak perlu dari Ismed. Apalagi saat itu kita sedang in," kata Bendol usai pertandingan.

Artikel Selanjutnya
Fakta Menarik Jelang Timnas Indonesia U-19 Vs Myanmar U-19
Artikel Selanjutnya
Duel Bintang Timnas Myanmar U-19 Vs Timnas U-19 Indonesia