Sukses

5 Pelatih Pengkhianat di Sepak Bola

Liputan6.com, Jakarta - Pelatih adalah roda yang paling penting dalam dunia sepak bola. Mereka bahkan menjelma jadi idola fans berkat tangan dinginnya. Namun, bagaimana kalau si pelatih berkhianat?

Tak ada rasa sakit yang lebih mendalam bagi fans Chelsea melihat Jose Mourinho bergabung dengan Manchester United. Bahkan, dia di sana sejauh ini meraih sukses, seperti mengantarkan Setan Merah meraih gelar Liga Europa.

The Special One sebenarnya sudah dianggap legenda oleh para suporter Chelsea. Hal ini membuat hubungannya dengan mantan klubnya itu merenggang.

Nah, selain Mourinho, ada beberapa pelatih lain yang jadi pengkhianat di dunia sepak bola. Siapa saja? Berikut daftarnya dikutip Sportskeeda:

1 dari 6 halaman

Leonardo

Leonardo Araujo (AFP PHOTO/FRANCISCO LEONG)

Mantan gelandang Brasil itu sebenranya memperkuat AC Milan selama rentang waktu lima tahun dalam kariernya. Tujuh tahun setelah pensiun di AC Milan pada tahun 2003, Leonardo kembali ke San Siro untuk menjadi pelatih klub kesayangannya tahun 2010.

Namun, kiprah Leonardo singkat meski dimulai dengan bagus. Leonardo menerapkan formasi baru di Italia, yakni 4-2-1-3 dengan fokus pada penggunaan maksimum pemain produktif, seperti Ronaldinho, Andrea Pirlo dan Clarence Seedorf.

Pada paruh pertama musim itu tampak solid. Namun, Rossoneri mulai goyah putaran kedua. Leonardo berhenti dari AC Milan setelah hubungan yang tegang dengan Presiden Silvio Berlusconi.

Akan tetapi, seolah itu belum cukup, Leonardo malah bekerja sama dnegan Massimo Moratti yang notabene Presiden Inter yang menunjuknya sebagai pelatih kepala pada tahun berikutnya. Penggemar Milan merasa terpukul saat Leonardo dianggap mulai tampil lebih baik dari pendahulunya Jose Mourinho dan Rafael Benitez.

Namun, mereka mungkin merasa nyaman saat Inter dikalahkan 0-3 oleh Rossoneri dalam sebuah derbi. Leonardo mengundurkan diri setelah hanya satu tahun sebagai manajer Nerazzurri. Para pendukung Milan tentu senang melihatnya gagal.

2 dari 6 halaman

Alex McLeish

Birmingham City's Alex McLeish (AFP PHOTO/Ian Kington)

Birmingham City adalah klub Liga Inggris pertama yang ditangani Alex McLeish dalam kariernya. Pelatih Skotlandia itu mengambil alih kekuasaan klub tersebut pada 2007 dan membantu mereka mencapai puncak dalam empat tahun masa jabatannya.

Bersama McLeish, dari 13 pertandingan musim 2009-10, Brimingham jalani musim terbaik yang pernah dijalankan pada papan atas. Dia adalah pelatih Birmingham pertama yang memenangkan penghargaan Manajer of the Month, menerima penghargaan tersebut pada bulan Desember 2009.

Pada akhir musim itu, McLeish membawa timnya finish ke-9. Itu adalah posisi tertinggi Birmingham di Premier League.

Namun, saat-saat indah itu musnah musim depan. Meskipun terdegradasi ke divisi bawah, Brimingham berniat kembali mempercayakan McLeish di kursi panas. Akan tetapi, McLeish memutuskan untuk berpisah dengan mereka, dan menandatangani kontrak dengan rival, Aston Villa lima hari setelah meninggalkan Birmingham pada Juni 2011.

Langkah tersebut sangat membuat marah Birmingham yang mencoba menggugatnya di bawah tuduhan pelanggaran kontrak. Mereka memprotes keras penunjukan dia yang menyebabkan kerusuhan di Villa Park.

McLeish akhirnya gagal di Aston Villa. Klub finis di posisi 16 yang hanya berjarak dua poin di atas zona degradasi. McLeish dipecat pada bulan Mei hanya dalam satu musim.

3 dari 6 halaman

Jorge Jesus

Pelatih Sporting Jorge Jesus ( REUTERS/Susana Vera)

Jesus adalah bagian instrumental dari kesuksesan yang dicapai Benfica selama masa jabatannya di klub. Dia memenangkan sejumlah piala domestik dan raih trofi Liga Europa pada musim 2013-14.

Namun, uang sepertinya menjadi faktor penting dalam kepergian pelatih tersebut ke rival, Sporting Lisbon setelah enam tahun berada di klub. Hal ini jelas bikin mantan klubnya itu kecewa berat.

Namun, Benfica senang karena Jorge Jesus gagal meniru jumlah keberhasilan sejak bergabung dengan Lisbon. Sejak tahun 2015, dia hanya berhasil menghadirkan satu trofi untuk Sporting. Bahkan, di Benfica, Jesus dipanggil sebutan Yudas.

4 dari 6 halaman

Harry Redknapp

Harry Redknapp (GLYN KIRK / AFP)

Harry Redknapp terkenal saat tangani Tottenham Hotspur di White Hart Lane. Namun, sebenarnya bukan Spurs yang membesarkan namanya.

Pelatih asal Inggris itu bergabung dengan Portsmouth sebagai tahun 2002 dan langsung sukses berkat tangan dinginnya. Dia membawa Portsmouth meraih gelar Divisi Satu dan mendapatkan promosi ke Liga Inggris musim 2002-03. Portsmouth tetap berada di papan atas pada tahun berikutnya. Namun, Redknapp mengundurkan diri setelah bersitegang dengan pemilik Milan Mandaric.

Beberapa minggu kemudian, Redknapp kehilangan semua rasa hormatnya setelah menandatangani kontrak dengan saingan berat, Southampton. Sontak dia jadi sumber kebencian mengerikan dari pendukung Portsmouth, yang mengenakan kaos bertuliskan 'Scummer'.

Redknapp juga gagal di Southampton. Dia diminta untuk menjaga Southampton di Liga Inggris, tapi melakukan hal yang sebaliknya. Setelah hanya satu musim, Redknapp mengundurkan diri dan meneruskan menebus dosanya dengan kembali ke Portsmouth pada tahun 2005 untuk tinggal selama tiga tahun.

5 dari 6 halaman

Giovanni Trapattoni

Giovanni Trapattoni (Jonathan Nackstrand/AFP)

Kembali pada hari-hari bermainnya, Giovanni Trapattoni adalah sosok yang benar-benar dihormati di AC Milan. Dia menghabiskan seluruh kariernya bersama Rossoneri dan menjadi legenda.

Setelah menghabiskan 12 tahun, Trapattoni melatih AC Milan selama tiga tahun setelah pensiun pada tahun 1972. Rossoneri dengan senang hati menyambut legendanya itu, tapi itu semua terjadi sebelum hal-hal buruk datang.

Setelah hanya satu musim, Trapattoni menusuk belati ke jantung fans AC Milan dengan setuju melatih tim rival, Juventus. Di sana dia bahkan sangat sukses.

Bersama Trapattoni, Bianconeri memenangkan banyak gelar selama masa jabatannya satu dekade dari 1976. Di sinilah dia mendapatkan pengakuan sebagai salah satu pelatih terbaik dalam sejarah.

Akan tetapi, Trapattoni melakukan pengkhianatan lagi dengan bergabung dengan rival, Inter Milan selama lima tahun. Penggemar Bianconeri mengalami nasib yang sama dengan pendukung AC Milan. Namun, Juventus menyambutnya dengan tangan terbuka untuk masa jabatan kedua pada tahun 1991.

Eka Setiawan

Artikel Selanjutnya
Polwan Seksi Segera Pimpin Pertandingan Bundesliga?
Artikel Selanjutnya
3 Calon Bintang Timnas Indonesia U-19 di Piala AFF