Sukses

KOLOM: PSG dan Kemenangan Uang di Sepak Bola

Liputan6.com, Jakarta - Kesumat rupanya masih belum sirna dari benak Javier Tebas. Presiden La Liga itu masih saja tak rela melihat Paris Saint-Germain (PSG) merampok Neymar dari Barcelona. Dia sangat yakin, dengan mengeluarkan uang 222 juta euro untuk menebus klausul pelepasan sang pemain, PSG pastilah melanggar Financial Fair Play (FFP).

Keyakinan itu pula yang membuat Tebas sangat ingin melihat UEFA dan FIFA bertindak. Apalagi, menurut dia, PSG sudah terang-terangan melakukan kecurangan ekonomi karena disokong uang "haram" dari Qatar. Kata Tebas, sepatutnya PSG dilarang berkompetisi.

Kegeraman pria blasteran Spanyol dan Kosta Rika itu mulai terlihat pada proses transfer Neymar. Meskipun Les Parisiens tak melanggar prosedur dalam merekrut bintang Brasil itu, dia terang-terangan tak rela. Sampai-sampai dia melalui La Liga tak segera memvalidasi transfer tersebut. Tujuannya agar Neymar tak segera mendapatkan international transfer certificate (ITC) sehingga tak bisa bermain.

Sebenarnya cukup banyak orang yang seperti Tebas. Tentu saja karena PSG seperti hendak potong kompas, menjadi klub tersukses di Eropa dan dunia dengan uang. Mereka membajak bintang demi bintang, dari Ligue 1 maupun liga-liga elite lain. Mereka ingin menjadi Bayern Muenchen dan Real Madrid sekaligus.

Di Bundesliga 1, sejak lama Bayern selalu memosisikan diri sebagai pembajak bintang-bintang klub lokal. Prinsipnya, semua pemain terbaik Jerman harus membela Bayern. Jadi, tak perlu heran bila kelak Timo Werner (RB Leipzig), Leon Goretzka (FC Schalke 04) atau Julian Brandt (Bayer Leverkusen) berkostum Die Roten.

Adapun Madrid dikenal sebagai klub yang pernah sukses menjadi kiblat utama pemain-pemain terbaik dunia. Sampai-sampai mereka dijuluki Los Galacticos. Tidak benar-benar digdaya memang. Namun, mereka tetap saja berhasil mendatangkan pemain-pemain terbaik di posisinya. Dari Roberto Carlos, Clarence Seedorf, Kaka, Zinedine Zidane, Luis Figo, David Beckham, hingga Ronaldo dan Cristiano Ronaldo berhasil diboyong ke Santiago Bernabeu.

Gelandang PSG, Neymar, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Anderlecht pada laga Liga Champions di Stadion Parc des Princes, Paris, Selasa (31/10/2017). PSG menang 5-0 atas Anderlecht. (AFP/Christophe Simon)

Para pengkritik PSG, juga Manchester City dan Chelsea, selalu saja mencibir dengan dua perkataan khas. Pertama, uang tidak bisa mencetak gol. Kedua, uang tidak bisa membeli prestasi. Intinya, percuma saja mereka menggunakan kekuatan uang karena toh tak akan bisa meruntuhkan klub-klub dengan tradisi kuat macam Manchester United dan Barcelona.

 

 

1 dari 3 halaman

Skuat Gemuk

Tentu mudah saja membenci PSG dengan alasan seperti itu. Namun, faktanya, mereka menunjukkan prestasi luar biasa. Di Ligue 1, mereka sempat empat kali juara beruntun sebelum dihentikan AS Monaco pada musim lalu. Di Liga Champions musim ini, mereka juga digdaya. Hingga matchday IV, Les Parisiens bersama sang pemain termahal dunia selalu menuai kemenangan.

Hal serupa juga dilakukan Man. City. Seperti PSG, mereka juga digdaya. Di Liga Champions selalu menang, di Premier League belum terkalahkan. Modal mereka pun sama, uang berlimpah. Meskipun tak punya pemain termahal dunia, The Citizens adalah klub dengan belanja terbesar pada Juli-Agustus lalu. Hampir 250 juta euro dibelanjakan The Citizens untuk merevitalisasi skuatnya. Itu lebih besar dari PSG yang hanya menggelontorkan 238 juta euro.

Jadi, terlalu emosional rasanya mengatakan bahwa prestasi tak bisa dibeli dan gol tak bisa dibuat dengan uang. Seperti kata bek timnas Jerman, Mats Hummels, uang memang tak bisa membuat gol. Namun, kata dia, dengan uang, sebuah tim bisa mendatangkan pemain yang bisa mencetak banyak gol. Jika ingin dipanjangkan, uang juga bisa membuat sebuah klub meraih prestasi besar.

Terlalu naif mencibir PSG dan Man. City hanya karena mereka disokong pemilik ambisius dari Jazirah Arab. Lagi pula, mereka menggunakan uangnya dengan baik. Tak seperti AC Milan yang seolah tak terkonsep.

Belanja sangat besar pada awal musim ini adalah investasi jangka panjang. Langkah yang dibuat musim ini memungkinkan mereka berhemat untuk beberapa tahun ke depan. Setidaknya, tak perlu lagi mengeluarkan uang hingga 200 juta euro pada satu periode transfer.

Striker PSG, Edinson Cavani, berusaha melewati hadangan pemain Anderlecht pada laga Liga Champions di Stadion Parc des Princes, Paris, Selasa (31/10/2017). PSG menang 5-0 atas Anderlecht. (AFP/Christophe Simon)

Pembelian Neymar memang ambisius dan sensasional. Namun, itu juga langkah genius. Presiden Nasser Al Khelaifi telah memastikan klubnya tak akan merugi secara ekonomi. Di lapangan, mantan pemain Santos itu pun katalisator untuk meraih trofi. Dia juga menjadi sosok yang bisa membuat lawan segan atau bahkan ciut.

Sementara itu, Pep Guardiola, manajer Man. City, mengatakan bahwa langkah yang diambil awal musim ini adalah upaya membangun sebuah tim yang kuat untuk beberapa musim ke depan. Menilik umur para pemain yang didatangkan, sangat jelas Guardiola tengah merancang tim untuk setidaknya lima tahun ke depan. Dalam masa itu, dengan kerangka yang sudah terbangun musim ini, The Citizens tak perlu lagi mengeluarkan ratusan juta euro.

Tak bisa disangkal, berkat suntikan hampir 250 juta euro, skuat The Citizens saat ini mendekati ideal. Guardiola bisa membuat dua tim dengan kekuatan mirip atau malah mungkin sama. Skuat gemuk dengan kualitas setara itu merupakan impian bagi siapa pun. Ini bukan hanya modal untuk menjuarai Premier League, melainkan bisa membuat mereka merengkuh treble winners.

2 dari 3 halaman

Tuntutan Zaman

Seperti diulas dalam kolom ini dua tahun lalu, setiap tim besar Eropa yang tak hanya ingin berjaya di kompetisi lokal harus mendatangkan bintang baru. Saat ini, harga sang bintang bukan lagi 25 juta euro atau 40 juta euro. Sekarang, mengeluarkan 50 juta euro untuk seorang pemain oke adalah kewajaran.

Fakta ini sudah sangat telanjang, tapi tak urung ada juga yang coba menyangkal. Bayern adalah salah satunya. Para petinggi klub itu dengan lantang menyebut bursa transfer sudah dipenuhi kegilaan dan mereka tak mau ikut-ikutan gila.

Sah-sah saja mereka memegang prinsip itu. Namun, kebutuhan tim akan skuat yang kompetitif di semua kompetisi menampar mereka. Musim ini, Die Roten bukan siapa-siapa di Liga Champions. Mereka dihajar 0-3 oleh PSG dan hanya menang 2-1 atas Celtic FC pada matchday IV lalu.

Penyebabnya adalah skuat yang tak mentereng. Para pilar Bayern saat ini sudah berumur dan tak lagi bugar. Sudah begitu, mereka pun tak punya pelapis-pelapis sepadan. Die Roten kini tak lagi menakutkan, bahkan bagi APOEL atau Qarabag sekalipun.

Hal yang paling menampar manajemen Die Roten adalah ketiadaan striker saat bertandang ke Celtic Park. Tiga hari sebelumnya, Robert Lewandowski meminta diganti karena merasakan masalah di otot pahanya pada babak pertama laga melawan RB Leipzig.

Para pemain Bayern Munchen merayakan gol ke gawang Celtic FC pada laga Liga Champions di Celtic Park, Selasa (31/10/2017). (AP Photo)

Usai pertandingan, striker asal Polandia itu mengeluh kelelahan karena selalu bermain 90 menit dalam hampir tiga hari sekali sejak awal musim. Dia memang sangat jarang cedera, tapi dia bukanlah robot. Jadwal padat akhirnya membuat dia menyerah.

Itu gara-gara Bayern ngotot tak mau mendatangkan striker pelapis pada periode transfer lalu. Die Roten merasa cukup memiliki Thomas Mueller sebagai back up bagi sang striker utama. Padahal, performa Mueller menukik tajam sejak Piala Eropa 2016.

Menilik kebutuhan meremajakan skuat dan memiliki para pelapis mumpuni, rasanya Die Roten harus menjilat ludah. Mau ataupun tidak mau, mereka harus mengikuti tuntutan zaman untuk lebih berani menggelontorkan banyak uang. Kecuali mereka tak mau lagi berjaya di Eropa.

*Penulis adalah pengamat sepak bola dan jurnalis. Tanggapi kolom ini @seppginz.

Artikel Selanjutnya
Spanyol Sikat Italia, Lopetegui Ogah Puji Isco
Artikel Selanjutnya
Portugal Bantai Kepulauan Faroe, Ronaldo Lewati Rekor Pele