Sukses

KOLOM: Contoh Buruk dari Conte

Liputan6.com, Jakarta - Move on, dong... Mudah saja mengatakan hal itu, tapi tidak mudah melakukannya. Tidak mudah melupakan sesuatu dan beralih ke sesuatu yang lain. Jangankan begitu, orang cenderung mengeluh saat menghadapi situasi sulit. Tak percaya, tanyakan saja kepada Antonio Conte.

Dalam beberapa waktu belakangan ini, dia tak henti mengeluh soal cedera pemain saat timnya mengalami kekalahan. Dia uring-uringan, antara lain menunjuk ketiadaan N'Golo Kante dan Alvaro Morata sebagai faktor yang membuat Chelsea takluk dari Crystal Palace.

"Memulai pertandingan tanpa Morata dan Kante itu tidaklah gampang. Kehilangan pemain seperti Kante tidaklah mudah. Dia selalu mampu menutup banyak area di lapangan. Saya harus memikirkan solusi lain," ungkap Conte usai timnya memberikan kemenangan pertama bagi Palace di Premier League musim ini.

Bukan sekali itu Conte mengeluh. Sampai-sampai, jelang pertarungan dengan Manchester United, dia disindir Jose Mourinho yang memang bermulut pedas. Menurut Mourinho, kalau mau, dia bisa saja mengeluhkan cedera Paul Pogba dan Zlatan Ibrahimovic yang punya peran sangat penting di Man. United.

"Saya memang kerap mengeluh, tapi tidak soal cedera pemain," kata Mourinho. "Bisa saja saya tiap pekan mengeluh soal cedera. Manajer lain mungkin akan berbicara tiap hari tentang Pogba. 'Oh, saya tak bisa memainkan Pogba. Oh, kapan saya bisa memainkan kembali Pogba? Oh, saya harus menjalani semua laga di fase grup Liga Champions tanpa Pogba. Oh, saya harus menghadapi laga-laga besar melawan Liverpool, Chelsea, dan Spurs tanpa Pogba.' Saya tidak bicara sekali pun soal Pogba. Saya hanya bicara tentang situasinya jika kalian tanya."

Mourinho memang tak secara nyata menuding Conte. Namun, siapa pun bisa dengan mudah menangkap bahwa manajer lain yang disebut The Special One itu mengarah kepada pria asal Italia tersebut. Gara-gara itu pula, Conte tak mau berjabat tangan dengan sang kolega usai Chelsea menekuk Man. United di Stamford Bridge.

Sebetulnya bukan hanya Mourinho yang mencibir Conte. Sebagian orang juga melakukan hal itu dengan cara berbeda. Terutama dengan terus menyindir penjualan Nemanja Matic ke Man. United dan pengasingan striker Diego Costa. Secara tidak langsung, mereka seolah ingin berkata, "Anda bukan kehilangan Kante dan Morata, Conte. Anda itu merindukan Matic dan Costa." 

Pelatih Chelsea, Antonio Conte berjabat tangan dengan pelatih MU, Jose Mourinho usai pertandingan pada lanjutan Liga Inggris di Old Trafford, Inggris (16/4). Chelsea tumbang atas MU dengan skor 2-0. (AFP Photo / Oli Scarff)

1 dari 3 halaman

Tantangan Manajer

Kehilangan pemain penting memang bukan hal mudah. Apalagi Kante yang jadi aktor utama dalam keberhasilan Leicester City dan Chelsea menjuarai Premier League dua musim belakangan. Andai saja dia itu berposisi seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, niscaya gelar pemain terbaik dunia sudah ada di pelukannya.

Situasi serupa dialami Borussia Dortmund yang belakangan menukik. Banyak orang mencari-cari penyebab keterpurukan tim asuhan Peter Bosz itu. Cedera bergiliran yang dialami para penggawa lini belakang adalah salah satu faktornya. Menariknya, keterpurukan Dortmund justru dimulai ketika Lukasz Piszczek cedera.

Piszczek memang bukan Kante. Tak banyak orang yang memujinya setinggi langit. Namun, ketiadaan bek kanan asal Polandia itu ternyata sulit ditambal oleh Bosz. Pelatih asal Belanda itu sampai harus menggeser bek tengah Marc Bartra ke posisi itu dan hasilnya tidak terlalu menggembirakan.

Mungkin karena bukan Kante pulalah ketiadaan Piszczek tak dikeluhkan Bosz. Dia, juga Direktur Olahraga Michael Zorc dan Chairman Hans-Joachim Watzke, tetap yakin bahwa Dortmund tidak sedang krisis. Mereka percaya, Bartra cs. hanya sedang tak dinaungi Fortuna. Tak seperti Conte, Bosz tak mengeluhkan cedera yang membekap Marco Reus, Andre Schuerrle, dan pemain-pemain lain. Dia juga sudah move on dari Ousmane Dembele yang memaksa pergi ke Barcelona.

Pelatih MU, Jose Mourinho melihat Antonio Conte mengintruksikan para pemainnya saat bertanding pada lanjutan Liga Inggris di Old Trafford, Inggris (16/4). MU mengalahkan Chelsea dengan skor 2-0. (AFP Photo / Oli Scarff)

Menyiasati ketiadaan pemain andalan, entah karena hengkang atau cedera, sebenarnya bagian dari seni menangani sebuah tim. Itu adalah tantangan untuk mencari formula dan formasi baru. Bahkan, itu juga tantangan untuk membuat seorang pemain lain seperti sang bintang yang tak bisa bermain.

Paling mudah, tengoklah Jupp Heynckes di Bayern Muenchen. Perlahan namun pasti, dia membuat orang-orang seperti lupa timnya bermain tanpa sang kiper utama, Manuel Neuer. Itu berkat kemampuannya membangkitkan kepercayaan diri Sven Ulreich, sang kiper kedua.

Entah apa yang dikatakan Heynckes kepada Ulreich. Namun, yang pasti, dari titik lemah yang membuat blunder saat menghadapi VfL Wolfsburg, Paris Saint-Germain, dan Hertha Berlin, mantan kiper VfB Stuttgart itu menjadi tembok tangguh di bawah mistar gawang Bayern. Tak hanya membuat penyelamatan-penyelamatan berkelas, dia bahkan sempat-sempatnya membuat assist untuk Kingsley Coman saat melawan Celtic FC di Liga Champions.

2 dari 3 halaman

Potensi Disharmoni

Bercermin dari hal itu, sebetulnya keluhan yang disampaikan Conte tak ubahnya sebuah pengakuan atas kegagalannya sendiri. Dia gagal meracik formasi dan taktik tanpa Kante. Dia pun gagal membuat pemain-pemain lain di posisi Kante untuk bermain seperti sang bintang.

Paling mudah, tentu saja kegagalannya membuat Michy Batshuayi bermain apik saat Morata tak tampil. Alih-alih memberikan suntikan motivasi seperti yang dilakukan Heynckes kepada Ulreich, Conte justru sempat mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap Batshuayi. Padahal, semasa di Olympique Marseille, Bathsuayi menunjukkan dirinya bukanlah striker kacangan. Di timnas Belgia pun, dengan kepercayaan dari pelatih Roberto Martinez, dia bisa tampil apik sebagai pengganti Romelu Lukaku.

Lebih luas lagi, itu merupakan pengakuan atas kegagalan Chelsea di bursa transfer. Sudah bukan rahasia, saat ini, sebuah klub membutuhkan dua tim dengan kekuatan sama untuk bisa sukses di berbagai ajang yang diikuti. Secara tidak langsung, meratapi ketiadaan Kante dan Morata tak ubahnya menyesali ketidakberhasilan membeli pemain pelapis sepadan untuk keduanya.

Conte mungkin meratapi nasibnya yak tak seperti Pep Guardiola. Di Manchester City, Guardiola mampu membelanjakan uang hampir 250 juta euro dengan baik. Dia memboyong sejumlah pemain baru yang membuat The Citizens sangat kuat di semua lini. Dia bisa memainkan siapa pun tanpa mengubah kekuatan timnya. Itulah yang membuat The Citizens belum terkalahkan di semua ajang musim ini.

Pelatih Chelsea, Antonio Conte (kanan) mengucapkan selamat kepada Michy Batshuayi yang mencetak dua gol sebagai pengganti pada laga melawan Watford, Sabtu (21/10/2017). (AP Photo/Matt Dunham)

Secara psikologis, keluhan Conte juga tidak baik bagi The Blues. Secara tidak langsung, mantan pelatih timnas Italia itu meremehkan para pemain lain. Bukan hanya mereka yang seposisi dengan Kante, melainkan keseluruhan pemain di timnya. Ini berpotensi menumbuhkan ketidaknyamanan bagi sebagian pemain.

Dalam hal ini, Batshuayi lagi-lagi jadi contoh nyata. Dia seperti sudah menyerah dan menganggap tak akan bisa lagi berkembang di Chelsea karena ketiadaan kepercayaan dari sang manajer. Batshuayi dipercaya akan meninggalkan Stamford Bridge pada Januari nanti.

Kini, Conte tak perlu mengeluh lagi. Kante sudah kembali saat The Blues mengalahkan Red Devils pada pekan lalu. Kembalinya "sang pemain terbaik dunia" adalah modal penting bagi Chelsea dalam upaya mengejar Man. City. Namun, semuanya akan sia-sia jika sang manajer tak mampu membuat semua pemain merasa penting bagi tim. Conte harus membangkitkan kepercayaan diri para pemain seperti Batshuayi jika ingin mempertahankan gelar di Premier League.

*Penulis adalah pengamat sepak bola dan jurnalis. Tanggapi kolom ini @seppginz.

Artikel Selanjutnya
Cara Unik Conte Tingkatkan Kemampuan di Chelsea
Artikel Selanjutnya
Kapten Juventus Tidak Mau Sepak Bola Mirip Polo Air