Sukses

5 Kesalahan MU Musim Ini

Liputan6.com, Jakarta Manchester United (MU) saat ini masih duduk di urutan kedua klasemen. Sekilas, mereka tampil baik dengan beberapa hasil tetapi ada kesalahan yang perlahan menggerogoti.

Kekalahan dari Chelsea pekan lalu menunjukkan hal itu. MU sering sekali menyerang dengan total tujuh tendangan, tapi cuma dua yang menyasar target.

Efektivitas masih menjadi masalah. Padahal di sana, ada beberapa nama yang ahli soal itu, termasuk Romelu Lukaku, Henrikh Mkhitaryan dan lainnya.

Jelas ada hal yang tak beres dalam permainan Red Devils. Ada lima kesalahan MU musim ini dikutip Sportskeeda:

1 dari 6 halaman

Kurangnya Pilihan Skuat

Klub yang bersaing dalam tiga-empat kompetisi secara bersamaan tentu harus punya kedalaman skuat yang cukup. Namun, hal itu tak terjadi di Man United.

United saat ini memiliki skuat yang penuh, tapi menumpuk di beberapa posisi. Tidak termasuk gawang, gelandang tengah dan gelandang serang kiri, Setan Merah tidak memiliki kedalaman yang signifikan untuk terus menantang trofi di setiap kompetisi.

Eric Bailly dan Phil Jones adalah bek tengah pilihan, Chris Smalling sering kali terbiasa bersaing di pertandingan Eropa. Sedang, Victor Lindelof belum nyetel di Manchester dan penampilan terakhirnya terjadi saat kalah dari Huddersfield. Itu menunjukkan bek mereka sangat padat.

Beda dengan striker. Selain Romelu Lukaku, tidak ada striker tim yang bisa diharapkan mencetak gol setiap minggunya. Marcus Rashford kadang kala telah didukung untuk bermain di tengah bersama Lukaku, namun tidak menunjukkan kualitasnya akhir-akhir ini.

Bahkan di lubang di belakang penyerang, United memiliki pemain yang sudah mapan, seperti Juan Mata dan Henrikh Mkhitaryan. Namun keduanya gagal menciptakan peluang sebanyak tim papan atas lainnya.

Alhasil, tim Mourinho meski terlihat penuh dengan nama kelas dunia, masih belum menghasilkan produk jadi. Hal ini yang menjadi keterbatasan dan harus diantisipasi bursa transfer Januari mendatang.

2 dari 6 halaman

Butuh Full-Back

Dua dari lubang menganga di skuat Manchester United adalah posisi full-back. Ketika sebuah tim mengharapkan untuk menantang gelar dan cuma andalkan Valencia yang sudah berusia 32 tahun sebagai bek kiri dan kanan belakang, Anda harus menerima bahwa ada masalah serius dalam posisi tersebut.

Luke Shaw, yang pernah menjadi bek termahal di dunia, telah gagal. Ashley Young pernah mengaku dalam sebuah wawancara, lebih suka bermain sebagai pemain sayap daripada fullback.

United secara tradisional menjadi tim yang bisa menciptakan peluang lewat tengah dan melalui kedua sisinya. Kapan pun fullback memiliki permainan yang tenang, tekanan pada gelandang serang dan playmaker meningkat untuk memberikan servis kepada striker.

Sayangnya, meski Young (1 assist) dan Valencia (0 assist) telah melaksanakan tugas bertahan dengan mengagumkan, tapi masih kalah dari nama lainn. Lihat saja Cesar Azpilicueta dari Chelsea (5 assist), Kieran Trippier dari Tottenham Hotspurs (4 assist) dan Kyle Walker dari Manchester City (4 assist).

3 dari 6 halaman

Penurunan Performa Mkhitaryan

Mkhitaryan belakangan menjadi tulang punggung buat tim. Pada awal ia memberikan 5 assist dan mencetak gol untuk Red Devils.

Dalam tujuh pertandingan liga pertamanya untuk Setan Merah, dia menciptakan total 22 peluang. Tapi, dalam empat pertandingan liga berikut, dia hanya bisa menciptakan 2 peluang saja.

Pemain Armenia itu juga hanya melakukan 39,5 umpan per game, kalah bila dibandingkan duet City David Silva (82,1) dan Kevin De Bryune (76,4) rata-rata per game. Bagi pemain yang peran utamanya adalah menciptakan dan memberi peluang, itu adalah tingkat keterlibatan yang sangat rendah dengan tim.

Kebetulan, Silva (2,6) dan De Bruyne (2,9) memiliki lebih banyak umpan kunci per game dari Mkhitaryan (2.1). Hal inilah yang jadi alasan mengapa Manchester City kini memuncaki klasemen dengan selisih 8 poin dari Man United.

4 dari 6 halaman

Lukaku Perlahan Mandek

Lukaku memiliki masalah sendiri yang menghalangi dirinya untuk mencetak lebih banyak gol buat Man United Dalam delapan penampilan pertamanya di liga, dia memiliki 16 tembakan tepat sasaran dan 8 tak sesuai target.

Namun belakangan, statistiknya menurun drastis. Melawan Huddersfield, Tottenham, dan Chelsea, dia hanya memiliki total 2 tembakan pada target dan 3 tak tepat sasaran.

Pada beberapa pertandingan, bek lawan telah berhasil mengisolasi dia. Masalah utamanya adalah striker Belgia itu justru kadang-kadang harus turun jemput bola dan mengoper ke Martial atau Rashford.

Akibatnya, dia tidak mendapat kesempatan untuk menembak ke gawang. Hal ini harus jadi perhatian serius Mourinho.

5 dari 6 halaman

Cederanya Paul Pogba

Musim ini, dampaknya tak terlalu terlihat di United. Nemanja Matic telah memikul tanggung jawab untuk membantu bek dan menahan serangan lawan.

Pogba adalah pemain hebat yang bisa mempertahankan penguasaan bola, menggiring, mencegat dan juga mendalangi serangan dari belakang. Tanggung jawab utamanya tetap untuk mematahkan serangan lawan dan memulai serangan balik United.

Namun demikian, cedera hamstring dalam pertandingan Liga Champions melawan Basel telah membuatnya absen sejak 12 September. Sejak absen, Mourinho menggunakan Marouane Fellaini dan Ander Herrera.

Namun, keduanya tak punya visi sebagus Pogba. Alhasil, servis ke striker menyusut. Selain itu, ketidakhadirannya juga memungkinkan tim lawan untuk banyak kuasai bola dan mengendalikan pertandingan. (Eka Setiawan)

Artikel Selanjutnya
5 Alasan Mengapa MU Bisa Juara Liga Champions Musim Ini
Artikel Selanjutnya
3 Pelatih Liga Inggris yang Terancam Dipecat Musim Ini