Sukses

KOLOM: Ujian The Cizitens di Derbi Manchester

Liputan6.com, Jakarta - Derbi Manchester. Manchester United vs Manchester City. Akhir pekan ini, tak ada yang bakal memalingkan muka dari laga sesama klub Manchester tersebut. Ini adalah laga penuh gengsi dan sarat kepentingan. Apalagi keduanya kini berada di dua tangga teratas klasemen Premier League. Man. City di puncak, Man. United di posisi kedua.

Bagi kedua klub, laga ini adalah the most anticipated match. Inilah laga yang akan sangat menentukan langkah kedua klub selanjutnya hingga akhir musim. Bagi Red Devils, kemenangan tentu membuka kans untuk menyalip sang rival. Sebaliknya, kekalahan bisa dikatakan mengubur kans juara karena kian tercecer jauh dari sang pemimpin klasemen.

Adapun bagi The Citizens, ini adalah ujian yang sesungguhnya. Setelah menghajar Liverpool dan Arsenal serta melewati ujian Chelsea, Derbi Manchester adalah saat pengukuhan kepantasan juara. Memang masih ada laga melawan Tottenham Hotspur pada medio Desember nanti. Namun, Derbi Manchester tetap saja ujian terbesar.

Derbi Manchester jadi sarat makna bagi Man. City bukan hanya karena Manchester United saat ini jadi pesaing terdekat dalam perburuan gelar. Lebih dari itu, Red Devils bersama Jose Mourinho adalah tim yang paling bisa menjadi antitetis dari The Citizens di bawah asuhan Pep Guardiola.

Siapa pun paham dan tahu persis betapa rancak performa Man. City musim ini. Setelah nirtrofi pada musim lalu, Guardiola mengubah wajah timnya. Dia mendatangkan banyak pemain untuk meremajakan skuat dan mendukung filosofi sepak bolanya.

Gelandang Manchester City, David Silva, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang West Ham pada laga Premier League di Stadion Etihad, Manchester, Minggu (3/11/2017). City menang 2-1 atas West ham. (AFP/Oli Scarff)

Man. City musim ini bisa dikatakan sebagai masterpiece Guardiola. Bila dibandingkan, The Citizens bermain dengan lebih baik dibanding Barcelona dan Bayern Muenchen di bawah asuhannya. Pelatih asal Katalonia itu sanggup mengikis unsur membosankan yang jadi efek samping utama dari tiki taka.

Di Man. City, atraktivitas lebih menonjol. Guardiola tak hanya membuat anak-anak asuhnya menguasai bola, mempermainkan lawan dengan operan-operan cerdas di antara ruang-ruang kosong di lapangan. Dia juga menerapkan directness lewat tusukan cepat dengan memanfaatkan skill Raheem Sterling, Leroy Sane, Gabriel Jesus, dan tentu sang otak serangan, Kevin De Bruyne dan David Silva.

 

 

1 dari 3 halaman

Bus Tingkat

Manchester City akan diuji ketangguhannya oleh Manchester United (AFP/Oli Scarff)

Kedigdayaan yang ditunjukkan sejauh ini membuat publik mulai membayangkan Man. City menyamai Arsenal pada 2003-04 yang juara dengan sebuah kesempurnaan. Sepanjang musim itu, anak-anak asuh Arsene Wenger tak tersentuh kekalahan di Premier League.

Guardiola berkali-kali menepis ide itu. Baginya, invincible sepanjang musim adalah kemustahilan. Di satu sisi, ini bisa diartikan sebagai upaya Guardiola melepaskan anak-anak asuhnya dari beban ekspektasi berlebihan. Dia tentu tak ingin ini menjadi bumerang, membuat mereka terlalu jauh mengawang dan lupa menginjak bumi.

Di sisi lain, ucapan Guardiola sangat masuk akal. Semasa di Barcelona dan Bayern saja dia gagal melakukan hal itu. Padahal, keduanya adalah penguasa yang sangat dominan di kompetisi domestik. Tentu jadi kemustahilan bagi dia melakukan hal itu di Premier League yang jauh lebih kompetitif.

Tak seperti di La Liga dan Bundesliga, lebih banyak pesaing di Premier League. Apalagi mereka hanyalah kekuatan alternatif, bukan bagian big four dengan tradisi lebih mengakar. Meskipun unggul jauh dari para konkuren dalam perburuan gelar juara, tetap saja Man. City tak bisa jemawa. Big four, juga Tottenham, tetaplah ancaman nyata.

Pelatih Manchester City, Josep Guardiola mengintruksikan para pemainnya di samping Jose Mourinho selama pertandingan Liga Inggris di stadion Etihad, Inggris, (27/4). MU berada di peringkat ke lima dan City di peringkat empat. (AFP Photo/Oli Scarff)

Itu pula yang bisa tersuguh di Derbi Manchester. Berbeda dengan The Citizens, Red Devils adalah tim pragmatis. Pekan lalu, mereka menang 3-1 di kandang Arsenal berkat efisiensi dalam pemanfaatan peluang. Mereka tidak menawan, tapi pulang dengan tiga angka.

Menghadapi Man. City yang sangat agresif, efisiensi itu pasti akan kembali jadi andalan utama. Bukan tidak mungkin, Mourinho mengambil langkah tidak populis dengan memarkir bus tingkat di depan gawang David De Gea. Mourinho yang sudah 19 kali beradu taktik dengan Guardiola tahu betul bahwa hal terpenting dalam meredam permainan tim arahan Guardiola adalah sempurna dalam bertahan.

Meladeni permainan terbuka Man. City sama saja dengan mati konyol. Memberikan ruang-ruang di lapangan kepada tim asuhan Guardiola sama saja bercanda dengan maut. Itu justru jadi katalis yang mempermudah Man. City mencapai permainan sempurna.

 

 

2 dari 3 halaman

Tantangan Mourinho

Pelatih Manchester United, Jose Mourinho, memimpin sesi latihan jelang laga Liga Champions di Manchester, Senin (4/12/2017). Manchester United akan berhadapan dengan CSKA Moscow. (AFP/Paul Ellis)

Mourinho juga pasti mempelajari cara Shakhtar Donetsk memberikan kekalahan pertama bagi Man. City musim ini. Dia pasti melihat bagaimana kedisiplinan dalam bertahan dan efisiensi dalam pemanfaatan peluang jadi faktor yang sangat menentukan.

Tentu saja wajah The Citizens di Derbi Manchester nanti akan sangat berbeda dari tim yang dikalahkan Shakhtar di matchday VI Liga Champions. Tak akan ada Phil Foden dan Tosin Adarabioyo di line up akhir pekan nanti. Kans Brahim Diaz turun sebagai pengganti pun sangat mungkin tidak ada. Sebaliknya, Kyle Walker dan Sterling pasti akan kembali ke formasi inti. Demikian pula dengan De Bruyne.

Terlepas dari hal itu, kemenangan Shakhtar tetap saja menjadi bocoran penting bagi Mourinho untuk memberikan kekalahan berikutnya bagi Guardiola dan Man. City. Bisa jadi taktik Paulo Fonseca, pelatih Shakhtar, menjadi masukan berharga bagi The Special One dalam mematangkan rencananya untuk Derbi Manchester nanti.

Masukan itu sangat penting mengingat Mourinho menghadapi pekerjaan rumah sangat besar. Dia tak bisa menurunkan sejumlah pemain kuncinya. Sebut saja Nemanja Matic yang cedera dan Paul Pogba yang menjalani hukuman karena kartu merah yang didapatkan di Stadion Emirates, pekan lalu.

Pelatih Manchester United Jose Mourinho memberi arahan ke pemainnya Paul Pogba saat melawan Arsenal dalam pertandingan Liga Inggris di stadion Emirates, London (2/12). (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Kehilangan dua pilar itu sangatlah berat. Namun, seperti yang pernah dikatakannya, Mourinho tak akan meratapi ketiadaan mereka. Dia menegaskan, dirinya bukan Antonio Conte di Chelsea saat N'Golo Kante tak bisa tampil.

Meskipun demikian, andai boleh, The Special One tentu akan memilih menghadapi Man. City saat Pogba dan Matic tak absen. Bagaimanapun, mereka adalah kunci Red Devils dalam bertahan dan menyerang. Mereka juga bisa menjadi penangkal bagi Silva dan De Bruyne di kubu lawan.

Toh, itulah tantangan sekaligus ujian yang harus dihadapi Mourinho. Dia harus melewati itu untuk mengukuhkan levelnya sebagai salah satu pelatih terbaik di dunia saat ini. Ujian itu pun sangat baik bagi para penikmat sepak bola di mana pun. Pasalnya, itu makin menambah menarik pertanyaan, "Apa yang akan dilakukan Mourinho?" yang selalu bergaung setiap kali dia bersua Guardiola.

*Penulis adalah wartawan dan pengamat sepak bola dunia. Tanggapi kolom ini @seppginz.