Sukses

Borosnya Klub Liga Inggris di Bursa Transfer

Liputan6.com, Jakarta - Klub Liga Inggris terus menunjukkan kekuatan finansial di pasar pemain. Sebanyak 20 klub tercatat menyetor 407,7 juta pound sterling, atau sekitar Rp 7,7 triliun, pada bursa Januari 2018.

Ini adalah bayaran terbesar sebuah kompetisi sepanjang sejarah pasar musim dingin. Angka itu bahkan hampir meningkat 100 persen ketimbang rekor Liga Inggris sebelumnya (244,3 juta pound sterling) yang dicatat tahun lalu.

Kenyataannya, reputasi Liga Inggris sebagai kompetisi paling boros sudah melekat pada beberapa tahun terakhir.

Khusus bursa musim dingin, Liga Inggris hanya dua kali tidak menempati posisi teratas dalam daftar pengeluaran tertinggi sejak 2010/2011. Transfermarkt mencatat pengecualian hadir pada Januari 2016 dan 2017 ketika Liga Super Tiongkok berkuasa.

Dana belanja klub Liga Inggris pada 2017/2018 total mencapai 1,84 miliar pound sterling. Pengeluaran mereka lebih dari dua kali pesaing terdekat Serie A (771,4 juta pound sterling).

1 dari 3 halaman

Berkat Hak Siar Televisi

Dibeli Januari 2018, bek Aymeric Laporte jadi pemain termahal sepanjang masa Manchester City. (AFP Photo/Lindsay Parnaby)

Kemampuan klub Liga Inggris belanja besar tidak lepas dari peningkatan hak siar televisi. Mereka menerima 5,14 miliar pound sterling yang dibagi rata hingga 2018/2019.

Hasilnya adalah kemunculan klub papan tengah Inggris pada daftar klub terboros. Everton berada di posisi lima dengan pengeluaran tertinggi musim ini. Di angka 182,4 juta pound sterling, mereka hanya kalah dari Paris Saint-Germain (214,2 juta pound sterling), Chelsea (228,4 juta pound sterling), Manchester City (286,5 juta pound sterling), dan Barcelona (291,9 juta pound sterling).

The Toffees mengalahkan nama-nama besar dari Eropa daratan, mencakup AC Milan, Juventus, Bayern Munchen, Borussia Dortmund, atau Inter Milan.

2 dari 3 halaman

Konsekuensi Negatif

Tambahan dana dari televisi memang membantu klub Inggris bersaing melawan rival dari negara lain. Namun, mereka juga harus menerima konsekuensi pahit.

Klub Inggris tidak bisa berbuat banyak menghadapi keputusan pemegang hak siar dalam mengatur jadwal kompetisi. Akibatnya, mereka sering harus memeras keringat menghadapi padatnya kalender.

"Televisi menentukan. Kita hanya dapat menerima," kata pelatih Arsenal Arsene Wenger, dilansir Guardian.

Kondisi tersebut membuat klub Liga Inggris kadang mengabaikan kompetisi lain dan memprioritaskan tampil di kompetisi domestik. Mereka juga kerap gagal mengeluarkan penampilan terbaik karena banyaknya pemain yang keletihan atau cedera.

Artikel Selanjutnya
Top 10 Berita Bola: Real Madrid Incar De Gea Lagi
Artikel Selanjutnya
Ini Alasan Mourinho Teken Kontrak Baru di Manchester United