Xavi: Madrid Tak Bisa Terima Kekalahan
Barcelona Dimas Ramadani28/01/2012 01:49 | Barcelona
Kegembiraan gelandang Barcelona Xavi Hernandez setelah Marcelo menciptakan gol bunuh diri ke gawang Real Madrid pada partai lanjutan La Liga di Santiago Bernabeu, Madrid, 10 Desember 2012. AFP PHOTO/JAVIER SORIANO
Liputan6.com, Barcelona: Barcelona kembali menunjukkan tak bisa dikalahkan pada duel el clasico. Pada pertemuan terakhir sesama musuh besar, Barca menjungkalkan Madrid di babak perempat final Copa del Rey. Setelah bermain imbang 2-2 pada pertemuan kedua di Nou Camp, Rabu (25/1), Azulgrana melenggang ke babak semifinal dengan keunggulan agregat 4-3.
Aroma permusuhan tak lantas menguap. Otak permainan Barcelona dari lini tengah, Xavi Hernandez, mengungkapkan bagaimana para pemain Madrid tak bisa menerima kekalahan secara sportif. Xavi juga menghujat terjangan pemain Los Blancos yang seperti binatang.
“Di ruang ganti pemain, mereka selalu komplain,” kata gelandang Timnas Spanyol ini, seperti dilansir koran El Mundo Deportivo. “Mereka luar bisa, tidak tahu cara menerima kekalahan.”
Komentar Xavi kian sengit ketika menyebut pemain Madrid bertindak seperti binatang dengan tekel kerasnya pada pertemuan terakhir, khususnya kepada Lassana Diarra. Diarra lolos dari ganjaran kartu kuning kedua setelah manjatuhkan Lionel Messi.
“Saya katakan kepadanya—wasit Fernando Teixera—Anda baru saja memberi kartu kuning kepada Messi dan sekarang saatnya kartu kuning selanjutnya diberikan—kepada Diarra. Dia (Diarra) pantas diusir dari lapangan,” cerita Xavi. “Dia harus mempertanggungjawabkan tekelnya, terutama jika menerjang seperti binatang.”
Real Madrid mengakhiri laga dengan 10 pemain setelah Sergio Ramos mendapat kartu kuning kedua dua menit sebelum waktu normal berkesudahan. Dan ironisnya, Madrid sangat vokal mengutarakan kritik kepada Teixera. Aitor Karanka, asisten pelatih Madrid, merespon komentar Xavi. “Tentu saja Real Madrid tahu menyikapi kekalahan. Tetapi tidak dengan bemanis-manis,” ujar tangan kanan pelatih Jose Mourinho ini.
Mourinho yang paling keras mengkritik Teixera. Bahkan, Special One sampai menunggu Teixera seusai laga untuk menyampaikan langsung opininya. “Teixera, Anda sekarang bisa menikmati cerutu dan tertawa tanpa perasaan bersalah ataupun malu,” cetus Mourinho dengan foto sedang menunggu Teixera di tempat parkir kendaraan.
Karanka membela sang bos. “Semua orang tahu sikap pelatih kami yang ceplas-ceplos. Ada di saat dia sangat baik dan santun tapi ada juga dimana dia tidak,” kata mantan bek Real Madrid itu.
Ketika beberapa pemain Madrid mengklaim itulah permainan terbaik melawan Barca sejak Mourinho mendarat di ibu kota Spanyol pada 2010, jejak rekam el clasico tak berpihak kepada mereka. Madrid kalah sembilan kali dan hanya menang sekali dari 14 pertemuan yang kental aroma permusuhan tersebut. Madrid, meski tersingkir dari Copa del Rey, memimpin klasemen La Liga dengan keunggulan lima poin dari Barca ketika kompetisi bergulir setengah musim.(DIM/AP Sports)
Aroma permusuhan tak lantas menguap. Otak permainan Barcelona dari lini tengah, Xavi Hernandez, mengungkapkan bagaimana para pemain Madrid tak bisa menerima kekalahan secara sportif. Xavi juga menghujat terjangan pemain Los Blancos yang seperti binatang.
“Di ruang ganti pemain, mereka selalu komplain,” kata gelandang Timnas Spanyol ini, seperti dilansir koran El Mundo Deportivo. “Mereka luar bisa, tidak tahu cara menerima kekalahan.”
Komentar Xavi kian sengit ketika menyebut pemain Madrid bertindak seperti binatang dengan tekel kerasnya pada pertemuan terakhir, khususnya kepada Lassana Diarra. Diarra lolos dari ganjaran kartu kuning kedua setelah manjatuhkan Lionel Messi.
“Saya katakan kepadanya—wasit Fernando Teixera—Anda baru saja memberi kartu kuning kepada Messi dan sekarang saatnya kartu kuning selanjutnya diberikan—kepada Diarra. Dia (Diarra) pantas diusir dari lapangan,” cerita Xavi. “Dia harus mempertanggungjawabkan tekelnya, terutama jika menerjang seperti binatang.”
Real Madrid mengakhiri laga dengan 10 pemain setelah Sergio Ramos mendapat kartu kuning kedua dua menit sebelum waktu normal berkesudahan. Dan ironisnya, Madrid sangat vokal mengutarakan kritik kepada Teixera. Aitor Karanka, asisten pelatih Madrid, merespon komentar Xavi. “Tentu saja Real Madrid tahu menyikapi kekalahan. Tetapi tidak dengan bemanis-manis,” ujar tangan kanan pelatih Jose Mourinho ini.
Mourinho yang paling keras mengkritik Teixera. Bahkan, Special One sampai menunggu Teixera seusai laga untuk menyampaikan langsung opininya. “Teixera, Anda sekarang bisa menikmati cerutu dan tertawa tanpa perasaan bersalah ataupun malu,” cetus Mourinho dengan foto sedang menunggu Teixera di tempat parkir kendaraan.
Karanka membela sang bos. “Semua orang tahu sikap pelatih kami yang ceplas-ceplos. Ada di saat dia sangat baik dan santun tapi ada juga dimana dia tidak,” kata mantan bek Real Madrid itu.
Ketika beberapa pemain Madrid mengklaim itulah permainan terbaik melawan Barca sejak Mourinho mendarat di ibu kota Spanyol pada 2010, jejak rekam el clasico tak berpihak kepada mereka. Madrid kalah sembilan kali dan hanya menang sekali dari 14 pertemuan yang kental aroma permusuhan tersebut. Madrid, meski tersingkir dari Copa del Rey, memimpin klasemen La Liga dengan keunggulan lima poin dari Barca ketika kompetisi bergulir setengah musim.(DIM/AP Sports)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Bookmark
Ada 7 Komentar Untuk Artikel Ini.
Posting komentar AndaqbBrHhlxxx | qjtxxx@zamxxx.com| 2012-03-15 00:07:03
ArWUpdGxxx | uftxxx@rvdxxx.com| 2012-03-10 09:06:06
xdiKvIixxx | rxtxxx@uaaxxx.com| 2012-03-09 03:26:51
OHlagWxfcxxx | bikensxxx@yaxxx.com| 2012-03-02 08:35:39
lhulhxxx | Lhulhung_xxx@yaxxx.com| 2012-01-28 20:38:42
hardzzzxxx | hardzzzxxx@yaxxx.com| 2012-01-28 09:53:37
barcotloxxx | barcotloxxx@yaxxx.com| 2012-01-28 02:24:11
Wawancara
Wayne Rooney
Mencoba Mengukir Sejarah
Tahun 2011 menjadi tahun gemilang bagi Wayne Rooney. Duetnya dengan Javier Hernandez menjadi salah satu kunci keberhasilan Manchester United meraih rekor 19 kali juara Liga Premier Inggris.
Polling Bola

