FIFA Investigasi Bahrain-Indonesia

  • Laga Bola Akbar 2014
  • 0
  • 01 Mar 2012 19:44

img_bahrain_ina-290212.jpg

Gelandang Bahrain Mohammed Ali (kiri) berebut bola dengan bek Indonesia Gunawan Dwi Cahyo pada partai Grup E kualifikasi Piala Dunia 2014 di Rifaa, 29 Februari 2012. AFP PHOTO/ADAM JAN

Liputan6.com, Zurich: Kemenangan sangat telak Bahrain atas Indonesia 10-0 (4-0) di partai terakhir Grup E kualifikasi Piala Dunia 2014 mengundang kecurigaan dan akan diinvestigasi FIFA, dalam hal ini departemen keamanan. Itulah pernyataan badan sepakbola dunia tersebut, Kamis (1/3).

FIFA mengatakan hal itu dilakukan terkait hasil akhir yang jauh dari perkiraan dan jejak rekam sejarah pertemuan kedua negara. Penyelidikan itu juga dilakukan demi menjaga kepentingan dan kepercayaan permainan sepakbola. “Departemen Keamanan FIFA akan melakukan penyelidikan rutin terhadap pertandingan ini dan juga hasil akhirnya,” kata FIFA dalam pernyataannya.

Bahrain membutuhkan kemenangan sembilan gol dari partai terakhir putaran ketiga kualifikasi PD 2104 Zona Asia agar bisa menempati posisi kedua di Grup E dan lolos ke putaran selanjutnya. Bahrain juga membutuhkan hasil kekalahan Qatar yang bertandang ke Iran pada pertandingan lain.

Akan tetapi, kemenangan telak Bahrain terasa hambar setelah Qatar berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 melalui gol di menit ke-86. Alhasil, Qatar mendampingi Iran setelah unggul satu poin di atas Bahrain. Namun begitu hasil tersebut menjadi pukulan telak bagi Indonesia yang merupakan kekalahan terbesar dalam sejarah buat tim Garuda.

Indonesia harus bermain dengan 10 orang sejak menit keempat setelah kiper Samsidar diusir wasit dan berbuah penalti yang menjadi awal dibantainya tim asuhan Aji Santoso. Wasit Andre El Haddad asal Lebanon juga memberikan tiga hadiah penalti buat Bahrain yang satu di antaranya gagal menghasilkan gol.

Karena protes keras terhadap kinerja wasit pulalah Aji diusir dari bangku cadangan di pertengahan babak kedua. Indonesia yang  sudah dipastikan tersingkir menurunkan tim lemah karena sebagian pilar utama Timnas banyak bermain di ISL, kompetisi yang tidak diakui PSSI. Kecaman keras dari masyarakat pun mengarah institusi pimpinan Djohar Arifin Husin. PSSI sendiri, melalui juru bicara Eddie Elison beralasan kebijakan itu demi menegakkan aturan FIFA (Baca: Kalah Telak, PSSI Minta Maaf).(DIM/Reuters)

Like this article?

0 likes & 0 dislikes


Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler