Kekerasan di Seputar Ring Mampu Mengguncang Dunia

  • Liga Dunia
  • 0
  • 15 Jul 2013 16:45
Kota Nabire tiba-tiba masuk dalam catatan sejarah gelap pertandingan tinju nasional. Dan barangkali inilah tragedi tinju yang memakan korban penonton pertandingan terbanyak dalam sejarah olahraga tinju di Tanah Air, bahkan mungkin dunia.

Insiden maut pertandingan tinju di Nabire terjadi saat Yulianus duel melawan Alfius. Dalam pertarungan tersebut wasit akhirnya memenangkan Alfius. Tak dinyana para pendukung Yulianus tidak terima dan marah. Tak hanya itu. Mereka pun kian beringas dan mulai melemparkan kursi ke arah panitia dan wasit serta suporter Alfian. Kerusuhan pun tak bisa terhindarkan lagi, setelah massa pendukung Alfian ikut membalas. Maka kemudian terjadilah baku hantam antarpenonton.

Para penonton lainnya berusaha menyelamatkan diri, namun ternyata hanya ada satu pintu yang bisa dilalui. Akibatnya, para penonton yang panik saling berebut dan terinjak-injak. Menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Ronny Franky Sompie, Senin 15 Juli 2013, sebanyak 17 orang tewas dan 39 luka-luka. Hingga kini masih terus diselidiki penyebab terjadinya kerusuhan tersebut.

Meski hanya menampilkan 2 petarung, namun pertandingan olahraga tinju ini mampu menyimpan potensi kekerasan yang berujung keributan antarpendukung masing-masing. Apalagi jika menyangkut soal Suku, Agama, dan Ras (SARA) pertarungan di ring mampu mengguncang dunia.

Era Jim Jeffries

Sejumlah contoh peristiwa terjadi di Amerika Serikat. Waktu itu 4 Juli 1910, seperti ditulis BBC, petinju Jim Jeffries bertarung melawan Jack Johnson.

Jeffries yang memiliki postur atletis dengan berat 100 kg dan tinggi 2 meter mempunyai penggemar yang banyak. Apalagi, Jeffries juga mempunyai tubuh proporsional dan kemampuan bertinju luar biasa.

Dengan segala keunggulannya itu, Jeffries pada tahun 1899 mampu menaklukkan petinju Inggris Bob Fitzsimmons dan meraih sabuk kelas berat. Jeffries mampu 7 kali mempertahankan gelarnya.

Tapi kemudian muncul petinju berkulit hitam Jack Johnson. Pada tahun 1908, Johnson sukses mengalahkan Tomy Burns dan merebut gelar juara di Sydney. Publik AS ketika itu, sulit sekali menerima kenyataan petinju kulit putih dikalahkan petinju kulit hitam. Peristiwa tersebut dianggap sebagai bencana.

Tiba saatnya Jeffries harus bertarung menghadapi Jack Johnson. Petinju Jeffries dianggap sebagai harapan kulit putih AS dan bahkan disebut-sebut sebagai harapan petinju dunia.

Johnson yang lincah dan licin itu akhirnya mampu menaklukkan Jeffries yang sempat 'menganggur' 4 tahun. Jeffries pun sempat menurunkan bobot badannya hingga 50 kg agar tak kedodoran di ring. Namun tetap saja, Jeffries di atas ring dijadikan bulan-bulanan Jack Johnson. Petinju idaman itu pun tersungkur di ronde ke-15.

Para pendukung yang tak terima jagoannya kalah, lalu membuat onar. Akibatnya terjadilah keributan besar bahkan hingga di luar ring seluruh AS. Banyak korban tewas gara-gara pertarungan tersebut. Tak disebutkan secara jelas jumlah korban terbunuh akibat pertarungan itu.

Era Joe Louis

Ternyata tak hanya Amerika Serikat yang terkena dampak kerusuhan sosial dan politik dari duel Jack Johnson versus Jeffries. Pertarungan petinju asal Jerman Max Schmeling melawan Joe Louis pun mampu mengguncang dunia.

Peristiwa itu terjadi pada 1936 silam. Pada pertarungan pertama Schmeling mampu memukul KO Louis di ronde ke-12. Tapi dalam duel berikutnya, Joe Louis mampu memenangkan pertarungan dan bahkan berhasil 3 kali mempertahankan gelar. Joe Louis jadi petinju kulit hitam kedua setelah Jack Johnson yang mampu meraih gelar juara dunia.

Laga petinju yang digelar sebelum pecah Perang Dunia II itu sempat menjadikan 2 petinju tersebut sebagai ikon dari dua kubu. Schmeling muncul sebagai sosok yang digambarkan Adolf Hitler sebagai supremasi kaum Arya. Sementara Roosevelt menggiring Louis agar menunjukkan keteguhan sikap Amerika Serikat.

Sedikitnya, 72 ribu orang penonton menyaksikan ambruknya Schmeling hanya dalam 1 ronde di tangan Joe Louis.

Era Muhammad Ali

Waktu itu 1964, Muhammad Ali masih dikenal sebagai sosok petinju bernama Cassius Clay. Tak dinyana-nyana Cassius Clay mampu mengalahkan petinju Sonny Liston di Lewiston, AS. Dunia pun geger, seorang petinju kulit hitam lahir kembali. Dunia saat itu menyebut adanya intrik dan konspirasi di balik pertarungan Cassius Clay versus Sonny Liston.

Sepekan setelah Clay menjadi juara, dirinya menyatakan diri masuk Islam dan masuk menjadi anggota organisasi Nation of Islam. Namanya pun ganti menjadi Muhammad Ali. Isu SARA sangat sensitif di AS kala itu. Publik Amerika Serikat sangat sulit menerima kenyataan tersebut.

Muhammad Ali dan Sonny terus-menerus mendapat ancaman aksi kekerasan dan bahkan pembunuhan dari orang atau kelompok tak dikenal. Ali kian terkenal dan jadi simbol perlawanan terhadap kemapanan setelah menolak wajib militer.  

Era Mike Tyson

Kekerasan di seputar ring dan di luar gelanggang tinju sepertinya akrab pada sosok petinju kelas berat Mike Tyson. Selain aksi kriminalnya terkait pemukulan, perkosaan seorang model, dan kekerasan terhadap istrinya, Tyson juga kena masalah setelah insiden 'gigit telinga' ketika duel melawan Evander Holyfield 1997 lampau. (Berbagai sumber)

Baca juga:
* <a href="http://bit.ly/14SCqay">Kekalahan Telak Indonesia Atas Arsenal Jadi Sorotan Dunia</a>
* <a href="http://bit.ly/15Gp5TO">Pelatih Arsenal Sempat Terkejut dengan Permainan Indonesia</a>
* <a href="http://bit.ly/1bew0HI">Bermain Apik, Pemain Muda Indonesia Dapat Jersey Pemain Arsenal</a>
* <a href="http://bit.ly/11PhbZa">Indonesia Banjir Gol, Ketum PSSI Tak Menyangka</a>
* <a href="http://bit.ly/1beweyN">Ketika Gelora Bung Karno Berubah Menjadi Emirates Stadium</a>
* <a href="http://bit.ly/16BWBHI">Nih, Pemain Thailand yang Jebol Gawang MU</a>

Credit: Vin


Related Articles
Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler