Wasit "Handball" Nyaris Gantung Peluit
Play-off Piala Dunia 2010 ME Gunawan25/11/2009 10:50
Wasit Martin Hansson (tengah) didampingi hakim garis Fredrik Nilsson (kiri) dan Hendrik Andren (kanan) sebelum laga Konfederasi 2009 antara Mesir vs Italia di Ellis Park Stadium, Johannesburg, 18 Juni 2009. AFP PHOTO/VINCENZO PINTO
Martin Hansson (© AFP 2009)
Artikel Terkait
Liputan6,com, Stockholm: Belum berhenti kisah seputar insiden handball Thiery Henry di laga play-off Piala Dunia (PD) 2010 Zona Eropa antara Prancis dan Republik Irlandia yang berlangsung di Stade de France, Saint-Denis, Rabu (18/11) lalu. Kali ini, cerita bermuara pada sosok sang pengadil di lapangan, Martin Hansson.
Wasit berkebangsaan Swedia berusia 38 tahun itu tak luput dari kecaman publik yang simpati dengan Robbie Keane dkk. Tekanan yang bertubi-tubi itu—di antaranya juga mendera orang tua Hansson—sempat membuat wasit yang terdaftar sebagai wasit FIFA sejak 2001 itu menimbang untuk gantung peluit alias mundur dari panggung internasional. “Saya sempat bertanya kepada diri sendiri, sepadankah hinaan yang saya hadapi. Inikah realita yang ingin saya dapatkan,” ujar Hansson seperti yang dikutip The Times Online.
Namun, keinginan Hansson untuk meninggalkan lapangan hijau seketika pupus setelah sejumlah harian lokal di Swedia, di antaranya Sydostran, memuat grafik ilustrasi yang menggambarkan posisi Hansson dan hakim garis Stefan Wittberg di saat insiden handball Henry yang terjadi ketika pertandingan berusia 102 menit dan 26 detik.
Kesimpulannya, media massa di Swedia mendukung pernyataan Hansson yang mengklaim dirinya tidak dapat melihat terjadinya peristiwa tersebut. Ketika itu, Hansson berdiri tepat di tepi kotak terlaran. Posisinya terhadap tempat dimana Henry mendapat umpan dari Florent Malouda terhalang tiga pemain. Sementara, hakim garis juga terhalang pandangannya oleh kiper Shay Given.
“Grafis tersebut membuktikan dengan jelas tentang fakta keseluruhan terkait posisi wasit di saat insiden itu terjadi. Sekarang, setelah adanya dukungan ini, saya baru menyadari bahwa insiden tersebut bukanlah kesalahan saya. Yang terjadi, situasi yang tidak menguntungkan bagi Republik Irlandia dengan konsekuensi yang sangat besar. Namun, itu bukanlah disebabkan kesalahan para pengadil di lapangan,” tegas Hansson yang ditengarai bakal mendapat tugas dari UEFA untuk menjadi wasit di matchday terakhir babak penyisihan grup Liga Champions, 8-9 Desember mendatang.(MEG)
Wasit berkebangsaan Swedia berusia 38 tahun itu tak luput dari kecaman publik yang simpati dengan Robbie Keane dkk. Tekanan yang bertubi-tubi itu—di antaranya juga mendera orang tua Hansson—sempat membuat wasit yang terdaftar sebagai wasit FIFA sejak 2001 itu menimbang untuk gantung peluit alias mundur dari panggung internasional. “Saya sempat bertanya kepada diri sendiri, sepadankah hinaan yang saya hadapi. Inikah realita yang ingin saya dapatkan,” ujar Hansson seperti yang dikutip The Times Online.
Namun, keinginan Hansson untuk meninggalkan lapangan hijau seketika pupus setelah sejumlah harian lokal di Swedia, di antaranya Sydostran, memuat grafik ilustrasi yang menggambarkan posisi Hansson dan hakim garis Stefan Wittberg di saat insiden handball Henry yang terjadi ketika pertandingan berusia 102 menit dan 26 detik.
Kesimpulannya, media massa di Swedia mendukung pernyataan Hansson yang mengklaim dirinya tidak dapat melihat terjadinya peristiwa tersebut. Ketika itu, Hansson berdiri tepat di tepi kotak terlaran. Posisinya terhadap tempat dimana Henry mendapat umpan dari Florent Malouda terhalang tiga pemain. Sementara, hakim garis juga terhalang pandangannya oleh kiper Shay Given.
“Grafis tersebut membuktikan dengan jelas tentang fakta keseluruhan terkait posisi wasit di saat insiden itu terjadi. Sekarang, setelah adanya dukungan ini, saya baru menyadari bahwa insiden tersebut bukanlah kesalahan saya. Yang terjadi, situasi yang tidak menguntungkan bagi Republik Irlandia dengan konsekuensi yang sangat besar. Namun, itu bukanlah disebabkan kesalahan para pengadil di lapangan,” tegas Hansson yang ditengarai bakal mendapat tugas dari UEFA untuk menjadi wasit di matchday terakhir babak penyisihan grup Liga Champions, 8-9 Desember mendatang.(MEG)
Dr Ann Tan - Women & Fetal Centre
Lady Obstetrician & Gynaecologist at Mount Elizabeth. Call 6887 1103.
www.AnnTan.com.sg
Lady Obstetrician & Gynaecologist at Mount Elizabeth. Call 6887 1103.
www.AnnTan.com.sg
Cord Blood Banking with Cordlife
Store your baby's cord blood with Singapore's leading stem cell bank.
www.cordlife.com
Store your baby's cord blood with Singapore's leading stem cell bank.
www.cordlife.com
Bookmark
Wawancara
Mohamed Zidan
Tetap Lapar dengan Gelar
Mesir menoreh rekor baru: tampil sebagai yang terbaik di Afrika tiga kali berturut-turut. Secara keseluruhan, The Pharaohs merengkuh trofi Piala Afrika tujuh kali. Meski demikian, menurut Mohamed Zidan, timnya tetap lapar dengan gelar.
Dr Ann Tan - Women & Fetal Centre
Lady Obstetrician & Gynaecologist at Mount Elizabeth. Call 6887 1103.
www.AnnTan.com.sg
Lady Obstetrician & Gynaecologist at Mount Elizabeth. Call 6887 1103.
www.AnnTan.com.sg
Cord Blood Banking with Cordlife
Store your baby's cord blood with Singapore's leading stem cell bank.
www.cordlife.com
Store your baby's cord blood with Singapore's leading stem cell bank.
www.cordlife.com
